Rasanya kini berbeda, rasa itu mulai tumbuh dan semakin kuat kurasakan. Apakah rasa ini salah?? mencintai apa yang yang seharusnya tak aku cintai. memiliki apa yang telah menjadi milik orang lain. aku tau rasanya sakit, dan aku tau perlahan semua akan kembali seperti dulu. kembali menemui pemilik aslinya. haruskah aku tetap bertahan dengan rasa ini? rasa yang seharusnya tak pernah aku miliki. apakah semua harus berakhir saat ini, berakhir disaat rasa ini mulai tumbuh di hati.
Tuhan, rasa ini begitu nyata kurasakan. jika memang ini akan berakhir saat ini, aku hanya ingin ungkapkan bahwa aku bahagia kau telah hadirkan dia dihidupku saat ini. meski aku tak bisa memilikinya seutuhnya, dan aku bukanlah orang yang memang kau ciptakan untukknya. Biarkan rasa ini tetap ada dan hilang dengan sendirinya, hilang disaat memang seharusnya seperti itu.
Tuhan, jika saat ini memang aku tak bisa bersama dia maka semoga suatu saat kau kembali pertemukan aku dengannya di waktu yang memang kau tuliskan untukku. Biarkan dia bahagia dengan orang yang seharusnya ada disisinya saat ini. Berikan aku keikhlasan untuk semua ini meski kau taurasanya memang akan begitu menyakitkan untuku.
Loving U Be*
viollett_vie
Minggu, 16 Desember 2012
Rabu, 28 November 2012
Hanya Satu Bintang, dan itu bintangku
Terkadang
cinta tak memerlukan alasan mengapa kau bisa begitu tulus mencintai seseorang,
sama halnya ketika aku mencintaimu namun tak punya alasan yang jelas mengapa
aku bisa begitu mencintaimu
Bab
satu
Kampus
itu
Kampus
biru
Hari ini merupakan hari pertaman ku
menyandang nama “Mahasiswa”. Pagi ini begitu cerah, mentari begitu hangat
menyapa kulitku seolah itu adalah caranya untuk menyampaikan semangat paginya
untukku. Embunpun masih enggan meninggalkan rerumputan dan burung-burung begitu
riangnya bernyanyi membuat semakin bersemangat untuk mengawali hari ini.
Nama ku adalah Nadira Indah Ramadhani. Aku adalah mahasiswa baru yang baru
saja terdaftar di sebuah perguruan
tinggi yang orang-orang menyebutnya ‘Kampus Biru’ merupakan salah satu perguruan
tinggi swasta di Bogor. Hari ini hari pertama bagi ku mengikuti perkuliahan.
Dengan semangat yang menggebu karena satu hal yang baru bagi ku belajar dengan
menggunakan baju bebas bukan baju putih-abu lagi.
Suasana kampus masih agak sepi pagi
ini, jam tangan yang menempel dilengan kiri ku masih menunjukan pukul 06.40. Aku berjalan
menyusuri bangunan-bangunan yang berjejer di sampingn kiri-kanan ku, tumbuh
pula pohon-pohon yang dibiarkan rindang. Terlihat seorang bapak tua penyapu
jalan sedang sibuk menyapu dan membakar daun-daun kering kering yang jatuh
karena memang usia atau bahkan tiupan angin. Memang didalam kampus masih banyak
pepohonan yang sepertinya dibiarkan tumbuh disana sebagai penyegar agar udara
kampus tidak terlalu panas.
Asap putih mengepul di udara memenuhi udara pagi ini bercampur dengan udara
segar pagi hari yang menjadikannya sedikit tercemar. Terlihat orang-orang
menutup hidung dan mulut mereka dengan tangan sambil berlari kecil ketika
mereka melewati kepulan asap putih itu.
Sekilas terpikir dibenak ku, manja sekali orang-orang itu baru
saja sebentar mencium bau asap sudah menjauh seolah itu hal yang begitu
menakutkan bagi mereka. Sedangkan terlihat bapak penyapu jalan itu sama sekali
tidak merasa terganggu dengan kepulan asap tersebut, dia hanya asyik menyapu
daun-daun kering itu dan mengumpulkannya dalam beberapa gundukan dan kemudian
membakarnya.
“Hei Dira”ujar seseorang seraya menepuk
bahu ku
Dengan agak sedikit terperanjat, aku
pun menoleh mencari asal suara yang mengusik lamunan ku tadi.
“Hai Dita” balas ku seraya tersenyum
Dita adalah teman pertama yang aku
kenal di kampus ini, selain satu asrama dengannya entah sebuah kebetulan atau
apa ternyata dia pun sekelas dengan ku.
“lagi apa kamu, ko pagi-pagi ngelamun
sih?! Ayo kita ke kelas nanti kesiangan lagi” ujarnya sambil menuntun lengan ku setengah memaksa.
Aku hanya mengikutinya tanpa menjawab pertanyaan
yang dia lontarkan tadi. Kami pun berjalan
menuju kelas perkuliahan pagi ini. Setibanya dikelas yang di tuju, bersyukur
dosen mata kuliah pagi ini masih sibuk menyiapkan absensi di ruang dosen
dan dengan kata lain kami berdua tidak terlambat masuk. Aku pun menghela nafas lega dan membiarkan udara
memasuki rongga dada yang tadinya begitu sesak akibat tadi kami berlari seolah
menjadi atlet maraton yang sedang mengikuti kejuaraan.
* * *
Dreetttt,,,,dreetttt,,,, getar handphone
ku menandakan ada pesan masuk. Langsung kubuka pesan tersebut dan ternyata
pesan dari Bryan teman ku dan Dita. Ya kami bertemu di pengenalan akademik dan
sejak saat itu kami mulai akrab.
“Dit, Bryan sms nih, katanya dia nunggu
kita ditaman kampus” ujar ku kepada Dita.
“Ok, bales aja bilang nanti kita
kesana” jawab Dita menyuruhku membalas pesan itu.
“Ok anak-anak, sampai disini saja
pertemuan kali ini, sampai ketemu minggu depan” ujar dosen mengakhiri
perkuliahan kali ini.
Setelah membereskan catatan, kami pun
langsung bergegas menuju tempat Bryan menunggu.
Dari kejauhan Bryan terlihat sedang
duduk di taman kampus, ditemani hilir mudik mahasiswa lain yang berjalan
melewati taman itu.
“Hai Bryan” sapa ku seraya menghampiri
tempat duduknya
“Hai Dir, hai Dit”
“Makan yuk, laper nih” ujar Dita
mengajak kami untuk meninggalkan tempat itu.
Tanpa menjawab ajakan Dita, kami pun
bergegas meninggalkan taman kampus mencari tempat makan untuk melepas rasa
lapar kami. Dan menemukan tempat makan yang sepertinya nyaman dan juga asyik
untuk mengobrol.
Kami menyantap hidangan di selingi
becandaan dan obrolan tentang pengalaman kami hari ini. Hal itu lah yang
membuat semua terasa mengasyikan. Berkumpul dengan sahabat untuk sekedar
menghilangkan rasa lelah hari ini.
Bab
Dua
Facebook
Awal
kutemukan engkau
Karena hal tren dan mode anak-anak masa
kini
yang makin marak menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter,
membuatku pun terjebak didalamnya. Aku pun mengikuti hal tersebut dengan bergabung
didalam facebook dan twitter. Satu demi satu pertemanan diterima dan lama
kelamaan banyak orang-orang yang tak pernah kukenal menjadi akrab denganku.
Malam ini aku hanya berdiam diri di
kamar asramaku dengan ditemani laptop kesayanganku dan juga lagu-lagu Pop
Indonesia. Ku buka akun facebook ku hanya untuk iseng menghilangkan rasa
kesepian.
Tak lama setelah ku buka akun facebook ku,
ternyata sudah banyak yang mengajakku chating, atau bisa di sebut ngobrol lewat
jejaring sosial itu. Ada seseorang diantara teman chatingku yang mengajakku
berkenalan karena kebetulan aku pun memang tak mengenal orang tersebut. Karena
tak ingin di anggap sebagai orang sombong, maka aku pun membalas pesannya dan kami
pun mengobrol melalui facebook tersebut.
Setelah lama ngobrol, ternyata dia
orangnya asyik untuk diajak ngobrol dan berbagi. Dia, Muhammad Andriana
Yusuf yang lebih akrab ku panggil
Andrian. Dia seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Sukabumi. Kami
pun akhirnya saling bertukar nomer telpon satu sama lain. Ya aku fikir tak ada
salahnya karna itu sebagai ajang silaturahmi.
* * *
Dreeettt,,,, dreetttt,,, drettt,,,, ku
rasakan handphone ku begetar menandakan ada yang mengirim pesan. Ku ambil
handphone yang berada di saku depan celan jeans ku.
“Hai Dira,,,, ini number hp ku,
Andrian” isi pesan tersebut
Sambil tersenyum, aku pun langsung
membalas pesan tersebut, dan itu menjadi
awal pertemanan kami. Kami mencoba saling mengenal satu sama lain, bercerita
tentang diri masing-masing juga tentang keluarga dan banyak lagi hal yang kami
bicarakan. Memang hal itu rasanya terlalu berlebihan bagi seorang sahabat yang
baru saja saling mengenal berbagi informasi baik itu keluarga dan kehidupan
pribadi.
Sekilas mirip berita-berita di Tv yang
menyatakan bahwa maraknya penculikan
atau kejahatan melalui dunia maya. Lucu memang karena aku pun sempat
berpikir seperti itu. Dia hanya orang asing yang ku kenal melalui facebook. Apa
benar dia adalah orang baik, padahal aku kan memang belum pernah bertemu
langsung dengannya. Awalnya memang enggan untuk saling menceritakan kehidupan
pribadi, namun entah lah rasanya rasa curiga itu pun musnah ketika kita sering
mengobrol lewat telpon dan aku rasa dia memang orang baik menurutku.
Tapi tak bisa ku pungkiri aku merasakan
hal yang tak biasanya aku rasakan ketika aku menemukan sahabat yang bisa ku sebut
baru bagiku. Aku adalah pribadi yang sulit untuk membuka diri menceritakan
tentang keluarga dan kepribadian ku. Hanya orang-orang tertentu yang membuatku
nyaman untuk bisa mengungkap semua gundah, keluh-kesah dan semua cerita baik
itu tentang diriku sendiri maupun tentang keluarga ku. Dan semuanya menjadi
berbeda ketika aku mengenal Andrian. Aku merasa begitu nyaman untuk aku berbagi
kebahagian dan juga keluh-kesahku.
Bab Tiga
Awan itu melindungiku
Dari teriknya matahari
“Dir, kita putus” kudengar suara
disebrang telepon sana. Kata yang begitu singkat namun membuatku tak bisa
melakukan apa-apa. Rasanya saat ini dunia begitu gelap tak ada cahaya
sedikitpun dan rasanya langgit jatuh menindihku, begitu berat dan menyesakan
dada.
Tanpa terasa butiran air hangat jatuh
dari kedua belah mataku mengalir membasahi pipi. Tak ada yang bisa aku lakukan
saat ini. Aku hanya bisa terdiam dengan handpone yang masih berada di telinga
sebelah kanan ku. Kemudian aku terduduk masih dengan bulir-bulir air mata yang
tak hentinya mengalir.
Suara tadi adalah suara Lucky, pacarku
yang sudah setahun ini menjalin hubungan denganku. Dia memutuskan hubungan
begitu saja tanpa ada alasan kenapa terjadi seperti ini. Terasa begitu
menyakitkan memang dan pastinya membuatku sayang terluka.
* * *
Keesokan harinya aku menghubungi Andrian
dan menceritakan kejadian semalam. Aku menangis dan mencurahkan semua
kekesalanku, kesedihan ku dan rasa kecewa ku kepada Andrian. Dia memberikan ku
waktu untuk meluapkan kemarahan dan membiarkan ku menangis. Dengan begitu sabarnya dia mendengarkan semuanya,
kemudian dia mencoba menenangkanku dengan nasihat-nasihat yang begitu
menyejukan.
Setiap hari bahkan setiap waktu dia
selalu memastikan kalau keadaanku baik-baik saja. Tak lupa dia selalu memberiku
semangat agar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia begitu baik untuk
seorang sahabat, dia layaknya seorang kakak yang tak mau melihat adiknya
menagis dan bersedih.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama
untukku bisa melupakan seseorang yang pernah hadir dan mengisi hari-hariku. Dan
dibutuhkan waktu yang lama pula untuk menyembuhkan luka yang pernah tertoreh di
hati. Memang tak semudah membalikan telapak tangan ketika kita berusaha untuk
bisa kembali menjalani hari ketika hati memang sudah tersakiti. Namun Andrian
dengan sabar membantuku untuk melupakan luka itu. Terkadang aku merasa hidup
begitu sia-sia dan berpikir aku tak bisa hidup tanpa Lucky.
Dengan proses yang cukup lama Perlahan
aku pun bisa melupakan luka yang begitu sakit ku rasakan dan itu berkat
Andrian, karena dia lah yang menjadi penyemangat untukku. Karena Andrian lah
aku merasa hidupku tak sendiri, dan merasa betapa beruntungnya aku memiliki
sahabat seperti Andrian.
Andrian bukan hanya sekedar sahabat,
namun dia juga menjadi kakak bagiku. Selalu memberiku nasihat-nasihat juga
perhatian yang lebih dibandingkan dengan sahabat-sahabat lainnya. Tak ada hal
yang kami sembunyikan satu sama lain. Sekecil apapun hal itu pasti akan kami
bagi. Biarpun itu merupakan hal yang tak penting namun terasa penting ketika
semua di bagi dengan sahabat.
Aku mendapatkan sosok kakak yang selama
ini aku dambakan, karena memang aku merupakan anak tunggal dan tak ada orang
yang bisa ku bagi cerita selain sahabat. Aku memang mendambakan mempunyai kakak
untuk sekedar berbagi cerita seputar keseharian ku, bercerita tentang
keluh-kesah serta banyak lagi. Dan dengan hadirnya Andrian dalam keseharianku
itu bisa mengobati rasa rinduku terhadap sosok kakak yang selama ini aku
idamkan.
Bab Empat
Kau layaknya bintang yang hadir
ketika kelam malam mulai menyapa
“Aku takut gelap, aku benci ketika gelap
menghampiri ku, aku tak ingin mentari lenyap karena hanya akan menyisakan
kegelapan” ujarku kepada Andrian melalui saluran telpon.
“Kenapa kamu harus takut dengan gelap,
justru dengan adanya kegelapan membuat kita bisa melihat indahnya bintang di
atas sana” ujar Andrian kepadaku.
“Coba kamu lihat di atas sana,
langitnya indah bukan karena bintang-bintang yang menghiasi angkasa raya.
Meskipun bintang tak bisa menerangi malam mu layaknya matahari yang bisa
menerangi hari-harimu dan menghilangkan rasa takutmu akan kegelapan, tapi bintang
juga bisa menghiasi malam-malam sepimu agar kau tak merasa kesepian”.
Aku pun tersenyum dan merasakan
perkataan Andrian benar, karena bintang malam begitu setia menemani
kesemdirianku dan rasanya aku tidak merasa kesepian karena bintang-bintang itu selalu
berkerdip seolah tersenyum kepadaku.
“Aku berharap kamu lah yang menjadi
bintang yang akan selalu menemani malam ku dan menghiasi kegelapan malam yang
menyapaku” ujarku kepada Andrian.
“Ya, aku janji, meskipun aku tak bisa
menjadi mentari untukmu, tapi aku akan selalu menjadi bintang yang menemani
malam gelapmu”
Bab Lima
Kita selalu saling
menguatkan
“Aku bosan Dir, menurutmu apa yang harus
aku lakukan saat ini” ujar Andrian di sebrang sana
Aku mencoba menenangkanya dan mencoba
menjadi tempat dimana dia bisa mencurahkan semua rasa yang dia rasakan saat
ini. Aku tahu dia merasa kesal, marah, kecewa, tersakiti. Rasa yang dulu sempat
menghampiriku beberapa bulan lalu, dan sekarang menghampiri Andrian juga.
“Sabar Ian, Tuhan pasti punya rencana
lain dibalik ini semua”
“Rasanya sakit Dir, ketika kita begitu
tulus mencintai seseorang namun orang itu mengkhianati kita. Aku berikan semua
yang dia minta, waktu ku, perhatian, apapun yang dia mau aku turutin. Apa
semuanya masih kurang buat dia. Aku selalu mencoba untuk setia, tapi apa yang
aku dapat dia hanya menjadikanku pelariannya saja” Adrian bercerita semua
kekesalannya.
“Orang seperti itu gak pantes buat kamu
Ian, yakinlah di luar sana masih banyak orang-orang yang ditakdirkan Tuhan
untuk mendampingi hidupmu” ujarku mencoba menyemangati Andrian.
Aku merasa miris mendengar cerita
Andrian. Orang sebaik Andrian disia-siakan begitu saja. setahu aku Andrian
memang tipikal cowo yang setia dan begtu tulus mencintai seseorang. Apapun yang
dia punya pasti akan dia berikan selama itu memang membuat pasangannya bahagia.
Dan dia orang yang paling tidak mau menyakiti seseorang dan membuat orang itu
menangis. Sebenci apapun dia kepada seseorang dia tak kan menyakiti orang itu.
Saat ini aku berusaha melakukan hal
yang pernah Andrian lakukan kepada ku ketika aku berada di posisinya saat ini. Dia
begitu terpukul dengan perlakuan mantan kekasihnya dan aku tak ingin melihatnya
semakin terpuruk. Aku mencoba memastikan keadaannya baik-baik saja dan selalu
mengiriminya kata-kata penyemangat agar dia kembali bisa menikmati hari-hari
nya.
Aku tak ingin melihat Andrian bersedih
karena kesedihannya bisa menjadi sedihku juga. Aku berusaha untuk membuatnya
kembali tersenyum. Itu lah hal yang selalu aku dan Andrian lakukan disaat salah
satu dari kami merasa kehilangan semangat hidup dan merasa dunia ini tak adil. Kami
selalu saling menguatkan satu sama lain dan selalu berbagi canda tawa juga
kesedihan.
Bab Enam
Bintang itu hilang terhalang
oleh kelamnya awan hitam
Sibuk !!!
Itulah kata yang saat ini mungkin menjadi
pemisah antara kau dan aku. Aku sibuk dengan aktivitas kuliah dan organisasi
ku, dan sepertinya kau pun sibuk dengan dunia baru mu yaitu dunia kerja.
Berbulan-bulan kita jalani hari-hari
tanpa ada kabar yang biasanya kita lakukan sesibuk apapun itu. Tak berani ku memulai
untuk menghubungimu, meski rasanya ingin sekali aku tahu bagaimana kabarmu.
“Telpon, ngga,, telpon,,ngga” pikiran
itu bermain di benakku
“Mmmm rasanya aku tak berani untuk
mengganggunya” gumamku dalam hati.
Aku pun mengurungkan niatku untuk tahu
bagaimana kabarmu saat ini. Jujur, aku merasa kesepian karena kau menghilang
begitu saja. Tak ada ucapan selamat pagi yang selalu kau lakukan untuk
membangunkanku. Tak ada kata-kata penyemangat ketika aku membutuhkan
penyemangat. Tak ada ocehan-ocehan mu yang kadang membuatku kesal. Ya aku
sendiri sekarang, sendiri melewati malam-malam kelam tanpa adanya
bintang-bintang yang menghiasi langit malam ku.
Aku merindukan bintang itu, bintang
yang selalu menghiasi malam dan menjadikan malam terlihat begitu indah. Aku tak
ingin awan itu menyembunyikan bintangku.
Rasanya ingin sekali aku mendengar
suaramu, setidaknya aku bisa mengetahui bahwa kabarmu baik-baik saja. Saat ini
aku ingin berbagi dengan mu. Berbagi canda tawa, kesedihan serta berbagi
cerita seputar apa yang aku lewati hari
ini. Jujur aku memang merindukanmu, merindukan sosok sahabat yang biasanya selalu
ada untukku.
Layaknya hariku yang gelap, malam ku
pun kini terasa gelap meskipun ada beberapa bintang yang menghiasi langit malam
ini, namun rasanya tetap saja tak seterang ketika kita saling berbagi. Mungkin
saat ini bintang itu sedang meredup karena awan gelap itu menyilimuti langit.
Ingin rasanya aku mengusir awan hitam yang menghalangi bintangku untuk bersinar
dan selalu membiarkan bintang itu tetap bersinar agar malam ini tak menjadi
kelam.
“Tuhan semoga keadaannya baik-baik saja
disana. Semoga bintang itu bersinar untuk dirinya sendiri meski orang lain tak
bisa melihat sinarnya” doaku dalam hati.
Bab Tujuh
Bintang itu kembali menyinari
malam-malam gelapku
kringgg,,,, kringgg,,,, ku dengar suara
handphone ku berbunyi, lumayan mengagetkan ku karena saat ini aku sedang
teringat tentang Andrian. “Bagaimana ya kabar Andrian sekarang, semoga dia
baik” gumamku dalam hati.
“Hah Andrian?!” aku terkaget ketika aku
melihat panggilan masuk dan ternyata itu Andrian.
“Hallo”
“Iya hallo, apakabar Dira? Sapa
penelpon di sebrang sana.
“Ian,,,, kamu kemana aja sih, kenapa
gak ada kabar” sambar ku langsung tanpa menghiraukan pertanyaan Andrian tadi.
“Maaf,,maaf,, kemarin-kemarin aku sibuk
Dir, maaf ya karena baru bisa hubungi kamu sekarang” ujar Andrian menjelaskan kepadaku.
“Kamu jahat, kenapa sampai gak sempet
sms aku. Setidaknya kamu kasih aku kabar kalau saat itu kamu sibuk dan gak bisa
di ganggu” Ujarku dengan nada kesal.
“Iya,,iya aku ngaku salah. Aku janji
gak akan ngulangin hal ini lagi deh. Udah kita baikanya” Ujar Ian merayuku agar
aku memaafkannya.
Kesal namun bercampur senang juga
karena akhirnya kami bisa berkomunikasi kembali. Kami langsung bercerita
kejadian-kejadian yang kami alami selama beberapa bulan kami tidak saling
memberi kabar.
Dia menceritakan mengapa dia menghilang
dan tak memberiku kabar belakangan ini. Aku mengerti posisinya, dia ingin fokus
dan menyibukan diri untuk bisa melupakan gadis itu. Namun syukurlah akhirnya
dia bisa kembali seperti dulu lagi, kembali menjadi Andrian yang pertama ku
kenal.
Semua kembali seperti semula, saling
memberi kabar dan selalu berbagi bukan hanya senyuman namun tangisan pun selalu
kami bagi.
Bintang itu telah kembali menghiasi
angkasa raya. Menerangi malam meski sinarnya tak dapat menandingi sinar sang
surya, namun memberikan keindahan bagi sang dewi malam.
Kini tak ada lagi malam gelap yang
menemaniku, karena bintang itu selalu berusaha memberikanku kedamaian dalam
kelamnya malam.
Bab Delapan
Tiga hari bersamamu
Melukiskan indahnya cerita
Hari ini masih begitu pagi, burung masih
enggan untuk bernyanyi, mentari pun masih malu-malu menampakan diri dan masih
bersembunyi di tebalnya kabut pagi. Namun semua tak membuat semangat ku luntur
untuk mengawali hari ini. Terlebih hari ini aku berniat untuk melancong ke kota
Sukabumi. Kota yang namanya sudah tak asing lagi bagiku karena sebelumnya aku
pernah mempunyai teman yang kebetulan tinggal di kota itu.
Awalnya aku tak yakin dengan ucapan Ian
yang memintaku untuk kita bertemu di
Sukabumi, namun karena Ian mencoba meyakinkanku lama kelamaan akhirnya aku
berusaha menyakinkan diri bahawa ini adalah permintaan yang serius. Kami pun
menentukan waktu untuk bertemu dan ditentukan lah hari ini.
Dengan menggunakan bis, ku habiskan 4
jam waktu ku untuk sampai ke Sukabumi. Terkesan manja memang karena selama
perjalanan Ian begitu memastikan kalau aku akan baik-baik saja. Setiap saat dia
menelponku dan bertanya saat ini aku masih berada dimana. Aku mengerti
kekhawatirannya, karena mau tak mau dia yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu
denganku. Memang terkesan berlebihan karena aku bukan anak kecil lagi. Tapi aku
pahami semua itu.
Perjalanan yang cukup melelahkan memang
namun semua terbayar sudah sesampainya aku di kota itu. Kota yang tadinya hanya
ku kenal namanya saja namun detik ini aku berada disini di kota Sukabumi.
Setibanya aku di pemberhentian terakhir
aku langsung merasakan udara malam yang cukup dingin sungguh berbeda dengan
Bogor yang begitu panas. Tak perlu menunggu lama sosok seorang lelaki yang
bersepeda motor berwarna merah pun menjemputku. Tanpa banyak bertanya, karna
aku yakin itu adalah Adrian orang yang aku tuju. Saat itu jam tangan ku
menunjukan angka 19.30 Kami pun langsung bergegas mencari tempat makan karena
dia tau 4 jam perjalanan pasti begitu menguras tenaga ku.
Dipilih lah sebuah tempat makan yang
menyediakan menu bakso dan banyak macam. Kami memesan dua mangkok Bakso untuk
sekedar menghilangkan lapar dan juga rasa lelah ku karena perjalanan. Sambil
menikmati indahnya malam di sudut kota Sukabumi seraya ditemani semangkok baso
dengan obrolan yang mengalir layaknya sahabat lama yang memang baru bertemu
kembali. Kami tak merasa canggung sedikitpun dan merasa bukan orang asing yang
pertama bertemu. Setelah puas menikmati
indahnya suasana malam di kota Sukabumi, kami pun bergegas pulang, karena pasti
orang tua Andrian sudah khawatir dengan keadaanku.
* **
Tak terasa kami pun sampai disebuah
rumah yang terlihat sederhana namun terasa begitu yaman. Baru saja aku turun
dari motor kulihat seorang ibu paruh baya dan suaminya membukakan kami pintu
dan menyambutku dengan begitu hangatnya.
“Eh sudah sampai ternyata,,ayo masuk “
ujarnya kepada ku dengan senyum yang begitu menyejukan hati
“Iya ibu terimakasih” jawabku sambil
tersenyum. Aku pun langsung mencium tangan kedua orang tersebut seraya
memperkenalkan diri. Mereka adalah orang tua Adrian.
“Ayo Ian antar dulu temannya kekemar” ujar ibu
menyuruh Andrian
Andrian pun menunjukan ku kamar yang
akan aku tempati selama aku berada disana. Aku pun mengikutinya dan menaruh
barang-barangku disana. Setelah selesai cuci muka dan berganti baju aku kembali
ke ruang tamu tempat Andrian dan orang tuanya mengobrol.
“Sukabumi dingin ya bu” ujarku berbasa-basi
“Iya neng (panggilan orang-orang Sunda
untuk perempuan yang lebih muda) disini emang dingin, beda dengan di Bogor
sekarang ya” ujar ayah Andrian
“Gimana kuliahnya sudah semester berapa
sekarang?”
“Saya baru semester VI pak,
alhamdulillah sejauh ini kuliahnya lancar”
Kami akhirnya larut dalam obrolan.
Mereka begitu ramah padaku menyambutku layaknya menyambut keluarga mereka
sendiri.
“Neng bapak sama ibu tidur duluan ya,
sudah ngantuk siap-siap untuk besok mau pergi ke Jakarta” . kebetulan memang
bapak dan ibu Andrian besok mau menghadiri acara saudara mereka yang di Jakarta.
“Oh iya,, bu pak silahkan tidur duluan”
ujarku dengan tersenyum
“Kalau butuh apa-apa mah bisa sama
Andrian saja”
“Iya pak,bu terimakasih”
Mereka pun bergegas memasuki kamar tidur.
Karena memang waktu sudah menunjukan 21.30. Dan sekarang hanya aku dan Andrian,
aku bercerita selama perjalanan ku tadi.
“Tadi berangkat dari Bogor jam berapa”
ujar Andrian kepadaku
“Aku berangkat sekitar jam 14.00.
Kebetulan tadi jalannya gak macet jadi gak telalu lama di jalan juga”
“Oh syukurlah, tadi aku sempat khawatir
juga jangan-jangan macet di jalan atau malah tersesat” ujarnya sembari meledek
ku
“Tersesat?! Aku kan udah gede” Jawabku
sambil mencibirnya.
“Hehehe,,, iya,,iya,,” Ujarnya seraya
meledekku.
Tak lama setelah itu, ia pu berpamitan
kepada ku untuk bergegas tidur karena memang sudah ngantuk katanya. Dengan
berat hati aku pun mengijinkannya untuk tidur duluan.
Tinggal aku sendiri diruang tamu itu.
Dengan ditemani laptopku aku pun mendengarkan musik namun tidak terlalu keras
seperti biasanya yang aku lakukan kalau aku di asrama aku tak enak karena takut
mengganggu tidur mereka.
Setelah merasa agak ngantuk, aku
bergegas memasuki kamar tidur yang mereka sediakan untukku. Ku matikan laptop
dan kunyalakan musik di handpone sambil ku pasang earphone ke telingaku
alasannya biar suaranya tidak terdengar keluar dan ku dengarkan lagu-lagu untuk
menghantarku tidur.
* * *
Karena suasana rumah sudah sepi, ku pun
berusaha untuk memejamkan mata ku, ya meski rasanya begitu sulit. Ku biarkan
lampu kamarku menyala karena aku benci dengan kegelapan. Ummmftt tepatnya
mungkin bukan benci namun aku takut dengan kegelapan.
Tak lama kemudian lampu kamarku
berkedip-kedip lalu ku dengar ledakan karna mungkin adanya konslet. Suasana semakin tak mengenakan, aku merasa
begitu takut akupun memaksakan mataku untuk terpejam. Namun ketika aku membuka
mata, keadaan sekelilingku ternyata
menjadi gelap gulita.
Wah bukan main kagetnya, aku pun
langsung terperanjat dari tempat tidurku dan merasa kebingungan. Karena panik
bercampur takut, ku cari handpone dan ku coba untuk menelpon Andrian. Berkali-kali aku menelpon Andrian namun tetap
saja tak ada jawaban, pasti dia sudah tertidur lelap gumamku dalam hati. Ku
coba memberanikan diri untuk coba bertahan dan memejamkan mata, namun sayangnya
tetap saja aku tak bisa. Kembali ku coba menghubungi Andrian berharap kali ini
dia mengangkat telponku. Berkali-kali aku mencobanya dan akhirnya dia pun
menganggak telponku.
“Mmmmmm,,siapa? Tanyanya dengan suara
yang lemas menandakan bahwa dia memang benar-benar sudah tertidur pulas.
“Ini aku Dira”ujarku pelan
“Mmmm,,ada apa?
“Lampu kamar aku mati”jawabku sedikit
ketakutan
Tak lama kemudian kudengar langkah kaki
menuju ke kamarku.
Kreeek,,,kudengar suara pintu kamarku
dibuka. Ku lihat sosoknya yang semponyongan seraya mengucek kedua matanya
karena ngantuk. Aku merasa sedikit lega karena akhirnya dia terbangun juga.
“Kenapa lampunya?
“Gak tahu tadi tiba-tiba lampunya mati”
Aku pikir yang mati itu hanya kamar ku
saja, namun ternyata seisi rumah itu gelap. Andrian pun keluar mencoba melihat
apakah ini memang mati lampu atau kah hanya rumah ini saja yang mati. Karena
takut aku pun mengikutinya keluar karena tak mau sendirian di kamar yang gelap.
Dia membetulkan saklar yang ternyata hanya rumah ini saja yang mati. Akhirnya
lampu pun kembali menyala. Namun sialnya kamar ku masih saja dalam keadaan
gelap, mungkin dikarenakan konslet dan menyebabkan lampunya meledak.
Karena malam sudah semakin larut dan
sepertinya tak ada lagi warung yang masih terbuka, Andrian menyalakan lilin
untukku karena aku tak mau tidur dalam keadaan gelap. Tadinya aku tetap saja
menolak karena alasan takut. Namun dia membujukku dan mencoba menenangkanku.
Setelah aku merasa lebih tenang, dia
pun berpamitan kepada ku untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya.
Karena tak tega melihatnya begitu mengantuk aku pun membiarkannya pergi.
Bab Sembilan
Pelabuhan Ratu
Menuliskan cerita juga nama kita
Bukan hanya di pasir namun juga di hati
Dreeettt...drettt...drettt..suara
handphone ku mengagetkanku dan membuatku terbangun.
“Hallo” sapa ku ketika mengangkat
panggilan masuk dengan nada suara yang masih mengantuk.
“Ayoo, bangun” ujar si penelpon
disebrang sana memastikan ku agar tidak bangun terlalu siang, karena dia tahu
kalau kebiasaan ku di asrama bangun siang.
“Iya ini udah bangun” . Jawabku dengan
keadaan yang masih mengantuk. Udara pagi Sukabumi menurutku begitu membuat
mataku enggan terbuka. Masih ngantuk memang karena dengan kejadian semalam
membuatku tak bisa memjamkan mata. Namun mau tak mau aku harus bangun karena
tak enak dengan orang-orang rumah. Ku matikan telpon dan ku bereskan tempat
tidur kemudian keluar kamar untuk ke kamar mandi.
“Selamat pagi” suara itu terdengar
ketika aku baru saja membuka pintu kamar. Ternyata Andrian dan orang tuanya
sedang menonton TV.
“Pagi”
Aku bergegas ke kamar mandi mengambil
wudhu dan langsung shalat subuh. Pagi ini memang masih terlalu pagi untuku jam
dinding masih menunjukan angka 04.30.
Setelah selesai sembahyang, aku keluar
kamar dan menemui Andrian dan keluarganya. Ku lihat ibu sedang sibuk menyiapkan
sarapan untuk kami pagi ini.langsung saja ku hampiri beliau untuk sekedar
membantunya menyiapkan sarapan.
“Ada yang bisa Dira bantu bu” tawarku
kepada ibu ketika sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Gak usah neng, kerjaannya ga banyak ko,
nonton TV saja sana sama bapak juga Ian” ujar ibu kepada ku.
Aku kembali ke ruang keluarga tempat
Andrian dan bapak sedang asyik menonton berita pagi ini. Aku duduk di sebelah
Andrian dan meletakan handphone ku di meja yang berada di depanku.
“Gimana neng nyenyak tidurnya”
“Alhamdulillah pak, semalam nyenyak
mungkin karna cape juga. Udaranya dingin ya pak” Aku tidak menceritakan
kejadian semalam yang membuatku begitu menakutkan.
“Iya neng Sukabumi memang dingin.
Apalagi kalau menjelang subuh. Neng hari
ini ibu sama bapak mau ke Jakarta, ga pa pa di tinggal di rumah? Bukannya ga
mau nyambut neng disini. Kebetulan ibu sama bapak memang ada acara sampai hari
minggu nanti”
“Oh iya pak, bu gak apa-apa”
“Nanti juga ada Mira kakanya Ian ko
kesini, jadi kalau perlu apa-apa bisa minta tolong teh Mira atau Ian aja”ujar
ibu seraya tersenyum
“Oh Ian punya kaka bu?
“Iya tapi sekarang sudah tidak tinggal
disini lagi tinggal sama suaminya sekarang mah. Tapi rumahnya tidak begitu jauh
ko”
“Ayo sarapan dulu yuk, kata Ian mau
jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu ya. Iya mumpung lagi ada di Sukabumi ya neng”
Kami pun sarapan bersama-sama. Terasa
kebersamaan yang begitu akrab. Kebersamaan yang memang jarang ku dapati ketika
aku berada di rumah. Aku sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua dan ketika
ada waktu kami bertemu rasanya jarang sekali kami bisa meluangkan waktu sekedar
bercengkrama dan makan bersama. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan
masing-masing sehingga sepertinya mereka lupa masih punya anak yang masih
memerlukan kasih sayang mereka.
* * *
Seusai sarapan kemudian aku langsung
mandi dan bersiap-siap untuk berkeliling hari ini. Tujuan kami hari ini yaitu
pantai Pelabuhan Ratu yang menjadi objek wisata pantai di Sukabumi. Karena kali
pertamanya bagiku jalan-jalan di Sukabumi, aku pun begitu bersemangat untuk
memulai liburanku di kota Sukabumi ini. Kami pun berpamitan kepada bapak dan
ibu.
“Bu, pak, Dira sama Ian berangkat dulu
ya”
“Iya hati-hati neng, Ian juga hati-hati
bawa motornya jangan ngebut”
“Nanti ibu minta maaf ya neng kalau pas
pulang nanti ibu sama bapak sudah tidak dirumah”
“Iya bu, pak hati-hati juga di jalan”
Kami pun bergegas pergi, namun tak lupa
aku sempatkan mencium tangan mereka terlebih dulu sebelum kemudian melakukan
perjalanan.
Perjalanan yang harus kami tempuh
lumayan jauh menghabiskan waktu 3 jam perjalanan dari pusat kota Sukabumi.
Memang pasti akan menjadi perjalanan yang melelahkan apalagi kami menggunakan
sepeda motor.
“Jauh juga ya Ian perjalanannya” ujarku
membuka pembicaraan.
“Iya Dir, lumayan jauh”.
Sepanjang perjalanan pun kami habiskan
dengan mengobrol dan sesekali di selingi becandaan untuk mencairkan suasana
canggung antara kami. Sehingga membuat kami merasa layaknya teman lama yang
kembali bertemu, bukan teman yang pertama bertemu. Ku rasakan suasana akrab yang begitu hangat. Becandaan dan
pembicaraan yang mengalir hingga membuat suasana menyenangkan.
* * *
Deburan ombak serta kencangnya angin
yang bertiup menghilangkan rasa lelah selama perjalanan menuju pantai.
“Wow pemandangannya keren” ujarku
dengan ekspresi yang begitu takjub melihat pemandangan di hadapanku. Ian hanya tersenyum sambil menaruh helm di
kaca spion motor.
“Mau kelapa muda gak” tanya Ian kepada
ku
Tanpa menunggu jawaban dariku, Ian pun
berlalu menghampiri bapak penjual kelapa muda yang berada di pinggir jalan. Aku
menghampiri tempat duduk yang menghadap langsung ke pantai. Ku lihat deburan
ombak yang seakan berkejaran menghempas batu-batu karang yang berada
didepannya. Anak-anak kecil dengan asyiknya bermain di pasir putih yang
terhampar luas.
“Ayo, malah melamun” tegur Ian
mengagetkan ku seraya menyodorkan ku kelapa muda yang berwarna hijau begitu
menyegarkan. Suasana hari ini begitu mengasyikan, meneguk kelapa muda seraya
ditemani deburan ombak dan tiupan angin pantai yang menyapa.
Setelah puas menikmati suasana di
pinggir pantai itu, kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami
ke pantai-pantai selanjutnya. Memang Pelabuhan Ratu memiliki banyak sekali
pantai-pantai yang terhempar luas.
“Biasanya disini gak terlalu rame Dir,
mungkin karena ini libur panjang makanya banyak yang berkunjung kesini”
Memang benar kata Ian mungkin karena
hari ini hari libur panjang banyak pengunjung yang berasal dari luar kota
sengaja datang kesini. Karena sepanjang perjalanan banyak ku lihat kendaraan
yang berplat B dan D.
Kami pun sampai di tempat yang kami
tuju. Tapi pemadangan pantai yang ada didepanku pun ternyata tak kalah indahnya dengan pantai yang
sebelumnya kami kunjungi.
“Ian ayo kita berenang” Ajak ku seraya
menarik lengan Ian. Ia pun hanya mengikuti ku dengan senyum di bibirnya.
“Ian aku pengen berfoto deket perahu”
ujarku memaksa.
“Iya sini aku fotoin, mau di foto
dimana saja, kapan lagi kan ke Pelabuhan Ratu” Ujarnya seraya mencibirku.
“Ian naik perahu yuk” ajakku setengah
memaksa Ian.
“Aduh panas Dir, main pasir aja ya”
“Gak mau, aku maunya naik perahu Ian”
pintaku dengan memelas.
Dengan berat hati dia pun akhirnya
memenuhi permintaanku.
“Nah gitu dong. Jangan cemberut, jelek
tau” ledek ku kepada Ian.
Kami pun larut dalam suasana indahnya
pantai Pelabuhan Ratu. Ditemani deburan ombak juga perahu-perahu nelayan yang
sedang bersandar di pelabuhan. Terlihat juga perahu-perahu yang sedang berlayar
di tengah deburan ombak, orang-orang
asyik berenang tanpa menghiraukan kencangnya debur ombak sore ini. Cukup
menghilangkan penat rutinitas keseharian yang kami lakukan, dan di hari inilah
sengaja kami habiskan untuk sekedar
menyegarkan pikiran.
Setelah puas berlayar di tengah deburan
ombak, kami pun kembali ke pantai. Ku lihat Ian sedang asyik menuliskan namaku
dan namanya diatas pasir.
“Kenapa menulisnya dipasir, tak lama
juga ombak akan menghapusnya dan tak kan menyisakan apa-apa” Ujar ku.
“Aku tahu pasti ombak akan datang dan
menghapusnya, biarlah ini hanya sebagai kenangan untuk kita. Biarkan yang abadi
haya di hatiku karena aku pun menulis nama mu bukan hanya di pasir ini namun di
hatiku dan tak akan ada yang bisa menghapusnya”.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan
Andrian kepadaku. “Semoga” gumamku dalam hati.
Jam tangan ku sudah menunjukan pukul
16.00, tak terasa kami habiskan hari ini dengan berenang dan menikmati indahnya
pantai ini. Karena kami merasa sudah
lapar akhirnya kami sepakat untuk mencari tempat makan yang selain makanannya
enak juga tempatnya nyaman untuk mengobrol.
Setelah berkelililng mencari tempat
yang nyaman, kami menemukan sebuah tempat makan lesehan yang berada di pinggir
jalan bersebrangan dengan pantai. Kami masuk dan kemudian memesan ikan bakar,
cah kangkung beserta lalap dan sambalnya. Begitu indahnya suasana sore ini,
rasanya hilanglah penat yang selama ini dirasakan karena kesibukan kuliah yang
padat. Yang terasa hanya ketakjuban kepada sang Khalik karena telah menciptakan
alam yang begitu indah, rasanya tak ada celah sedikitpun. Sungguh merupakan penciptaan
yang begitu sempurna .
* * *
“Om pulang....”
Kudengar suara bocah kecil dari dalam
rumah. Suara itu semakin jelas terdengar ketika seorang wanita membukakan kami
pintu.
“Hallo ade” Ujar Andrian sambil menggendong anak laki-laki yang
berlari menghampirinya. Ternyata anak kecil itu adalah keponakan Andrian.
Namanya adalah Ryan Ramadhan, memang namanya sedikit mirip dengan ku yaitu
menggunakan nama “Ramadhan dan Ramadhani” pasti karena kami sama-sama lahir
ketika orang-orang muslim sedang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan.
Aku langsung menyalami perempuan yang
sedikit lebih tua dari ku itu seraya memperkenalkan namaku. Ya mungkin inilah
Mba Mira yang kemarin ibu ceritakan kepadaku akan datang untuk menemani kami.
“Ayo ade salim sama ateu ( panggilan
akrab berasal dari kata tante)” Ujar mba Mira
“Hallo ade, siapa namanya” tanyaku
ketika ade kecil itu menyalami ku. Dia menyalamiku tanpa mengatakan apapun
mungkin karena dia masih malu dan merasa asing dengan ku.
Aku berjalan menuju kamar untuk
mengambil handuk dan bergegas mandi karena rasanya badan ini lengket akibat air
laut tadi.
“Mau mandi Dir” tanya Ian kepada ku.
“Iya nih, badannya pada lengket”
“Iya nih, badannya pada lengket”
“Ya udah tunggu bentar ya aku masakin
dulu air karena disini kan dingin jelas beda dengan di Bogor”
“Gak usah deh kan udah biasa mandi pake
air dingin”
“Ini Sukabumi Dira, bukan Bogor. Udah
jangan bawel nanti mandinya harus pake air hangat” Ujar Ian kepadaku.
Aku tersenyum melihat perhatiannya
kepadaku. Sambil menunggu air panas, aku mencoba mengakrabkan diri dengan ade
Ryan. Ku coba mendekatinya dan mengajaknya bermain, lama kelamaan dia pun mulai
dekat denganku.
“Ateu,,,ateu... ayo sini kita main ini”
panggilnya kepadaku.
Aku langsung menghampirinya dan bermain
Game di laptop Ian. Kami pun asyik bermain sampai akhirnya dia tertidur karena
merasa lelah bermain dengan ku.
* * *
“Ateu,,,ateu,,,” ku dengar suara ade
memanggil dan mengetuk pintu kamar.
“Iya sayang sebentar” jawabku dari
dalam kamar.
“Ayo ade ajak ateu sarapan sini” ku
dengar suara mba Mira menyuruh ade untuk memanggil ku.
“Ateu,, sini” ujar ade seraya menarik
lenganku berharap aku mengikutinya. Aku pun mengikuti adik kecil itu tanpa
banyak bertanya. Dia menawari ku makanan yang sengaja mba Mira siapkan untuk
kami pagi itu. Kami pun asyik mengobrol kesana kemari seraya mengajak ade
bermain. Suasana sudah mulai mengasyikan dan tak canggung lagi seperti
hari-hari sebelumnya. Aku merasa layaknya berada di rumah sendiri dengan
keluarga ku sendiri. Mereka begitu ramah memperlakukanku layaknya bagian
keluarga mereka.
“Ateu kuliah dimana, semester berapa sudah
lama sama om? Tanya mba Mira kepadaku
“Aku kuliah di salah satu universitas
di Bogor mba dan sekarang baru semester VI” jawabku seraya tersenyum. Aku kaget
ketika mendengar mba Mira memanggilku dengan panggilan itu. Ya itu menandakan
bahwa mereka mengganggapku memang keluarga bukan orang lain yang bertamu.
“Ateu, nanti mba mau pulang duluan ya
banyak kerjaan dirumah”
“Oh iya mba aku juga niatnya memang mau
pulang siang ini” jawabku
“Ade ayo salim sama ateu nanti kan gak
kan ketemu ateu lagi. Ateu kapan-kapan main kesini lagi ya” pinta mba Mira
“Yaaah ade mau pulang sekarang ya,
nanti ateu bakal kangen dong sama ade” ujarku dengan ekspresi yang tak rela
berpisah dengan keluarga ini.
“Ateu, mba pulang dulu ya, salamin aja
sama om Ian” memang kebetulan ian sedang berada di kamar mandi ketika mba Mira
berpamitan kepadaku.
“Iya mba, hati-hati di jalan, dadah ade
sayang” ujarku seraya mencium pipi ade Ryan.
Ku perhatikan mereka berlalu
meninggalkan rumah. Rasanya berat sekali meninggalkan rumah ini, meninggalkan
keluarga yang begitu ramah menerima ku. Namun sayang waktu yang tak mengizinkan
karena kami harus kembali ke rutinitas kami masing-masing lagi. Aku yang
nantinya kembali disibukan dengan rutinitas kuliah dan Ian yang kembali
disibukan dunia kerjanya.
Bab Sepuluh
Kudapati sosokmu
Dua hari berlalu selepas kepulangan ku
dari Sukabumi dan kembali ke asrama dan aktivitas kuliah ku. Banyak yang
berubah sepulang aku dari sana. Aku merasakan kebahagian yang amat membuatku
bersemangat. Ya karena setelah beberapa hari di Sukabumi membuat kami
berkomitmen untuk menjalin hubungan yang lebih dibanding ikatan sahabat.
Aku sudah merasa nyaman dengannya,
karena kami sudah bersahabat dua tahun lebih dan rasanya itu bukan waktu yang
sebentar untuk bisa saling mengenal pribadi masing-masing. Ian begitu dewasa
hingga bisa membimbingku karena aku memang tipe anak manja yang selalu ingin
diperhatikan oleh orang-orang disekitarku, dan aku dapatkan itu semua di sosok
Ian.
Kami selalu menyempatkan waktu meskipun
hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi dan juga berbagi pengalaman yang kami
alami setiap harinya, sesibuk apapun kami. Itulah yang membuat ku merasa dia
begitu dekat dengan ku dan membuat ku percaya kepadanya. Kami berkomitmen untuk
saling menjaga perasaan satu sama lain dan juga mencoba saling memberikan
kepercayaan sekecil apapun itu.
Beberapa bulan berlalu dan kami tetap
seperti itu. Jarak kami memang cukup jauh namun kami tetap merasa dekat karena
selalu berbagi informasi apapun itu. Meskipun yang kami bagi bukanlah hal yang
begitu penting namun justru hal itu lah yang membuat kami merasa saling peduli.
Tibalah saatnya giliran Ian yang
berkunjung ke rumah ku di Bandung. Sama halnya dengan keluarga Ian yang begitu
santunnya menerimaku disana, keluargaku pun menerima Ian dengan tangan terbuka.
Mereka memberikan kepercayaan kepada Ian agar selalu menjaga ku dan melindungi
ku. Dengan kata lain Ian menjadi anggota keluarga ku juga dan begitu pula dengan
ku.
Bab Sebelas
Janji mu dan janji kita
“kangen sama kamu” ujarku kepada Ian
ketika kami sedang asyik mengobrol di telpon.
“Iya, Dir aku juga kangen sama kamu,
nanti ya kalau kerjaan aku beres dan gak begitu sibuk nanti aku usahin nemuin
kamu ke Bogor”
“Asyiiikkk,,, janji ya”
“Iya aku janji, ekh Dir disini lagi ada
ade Ryan nih, kebetulan dia lagi nginep disini”
“Masa sih, aku pengen ngomong dong sama
dia kangen juga pengen denger suara dia”
“Hallo ade” ujarku memanggil ade Ryan
“Hallo ateu, apakabar, ateu lagi apa”
Ujarnya dengan nada manja layaknya anak bocah seusianya. kudengar suara Ian
dibelakang mengajari ade Ryan untuk menanyakan kabar ku.
“Kabar ateu baik sayang, kabar ade
gimana, ade udah makan? Tanyaku kepadanya.
Kami pun melepas rasa rindu melalui
pesawat telpon. Aku begitu merindukan keponakan kecilku, rindu dengan kenakalannya
dan rindu ketika dia memanggilku ateu.
“Udah ngobrol sama ade Ryannya” ujar
Ian menyambung pembicaraanku dengan ade Ryan tadi.
“Wah dia pasti udah makin pinter ya”
“Mmmm makin pinter sih iya, tapi makin
bandel juga tuh” Ucap Ian kepadaku.
“Ya pastilah kalau ade bandel, siapa
dulu dong omnya” Ujarku meledek Ian.
“Ye, aku kan anak baik ateu” Ujar dia
dengan nada manja meniru ade Ryan.
“Iya deh baik,, ateu percaya ko om
baik”
“Aku kangen sama kalian, gak sabar
rasanya ingin melepas rindu.
“Sabar ya sayang, nanti juga kita pasti
ketemu ko. Aku janji” Jawab Ian mencoba mengobati rasa rinduku.
Malam ini kami larut dalam obrolan
meski hanya melalui pesawat telpon, namun cukup mengobati rasa rindu kami
masing-masing.
“Dir, aku sayang sama kamu, jangan
pernah tinggalin aku ya”
“Iya sayang,, aku juga sayang ko sama
kamu”
Malam ini pun kami mengikrar janji
untuk tetap saling menjaga hati kami, untuk tetap menyayangi dan mencinta.
“Semoga kau menjadi yang terakhir
untuku”
“Semoga”
Dia berjanji padaku tak kan pernah
membuatku menangis, dan dia berjanji padaku walaupun aku tak kan menjadi
miliknya kelak namun dia akan selalu ada untukku. Itulah janji yang terucap
dari bibirnya malam ini. Janji yang ku harap bukanlah hanya dibibir saja,
semoga janji itu memang benar-benar menjadi nyata bukan hanya menjadi
angan-angan semata.
“Ku harap kau selalu mendoakan ku,
berdoa agar kelak suatu saat nanti aku lah yang akan menjadi imam dalam setiap
shalatmu” Ujarnya kepadaku
Janji yang begitu tulus keluar darinya.
Aku pun berharap kelak dia lah yang akan menjadi imam dalam setiap shalatku.
Dan seseorang yang akan selalu membimbingku menuju syurga-Nya.
Bab Dua belas
Badai itu datang
Menghapuskan nama yang kau ukir dipasir itu
Juga mencoba menghapus nama yang terukir dihati kita
“Benar ini Nadira” Terdengar suara perempuan yang tak ku
ketahui siapa.
“Iya
benar, saya Nadira, dengan siapa disana” Ujar ku dengan nada ingin tahu.
“Saya
Andien calon istrinya Andrian, kalau boleh tahu anda siapanya Andrian ya”
tanya gadis itu dengan nada ketus.
“Calon istri” gumamku dalam hati
“Coba saja tanya Andrian mba, tanya
saya siapanya dia” Ujarku dengan nada yang tak mau kalah.
Aku berusaha untuk mencoba tenang, aku
pun berusaha untuk berpositif thinking. Aku tak mau terbawa emosi yang nantinya
akan membuat masalah menjadi lebih rumit.
“Maaf ya mba, saya mohon sama anda
jangan pernah anda ganggu calon suami saya. Dia itu calon suami saya, jadi jangan kecentilan ya jadi cewe” ujarnya
dengan nada yang seolah menantangku
“lho gini ya mba kalau mba ada masalah
sama Andrian saya harap mba menyelesaikan langsung dengan orangnya, jangan
bawa-bawa saya. Karena saya gak tau apa-apa tentang permasalah mba” Ujarku seraya
menahan amarahku.
“Sekarang kamu ngaku aja deh, kamu
pacarnya Andrian kan? Udah sekarang gini aja deh, kamu jangan ganggu Andrian
lagi” Ujar gadis itu seraya menutup
telponnya.
“Calon istri, ada apa ini sebenarnya?
Apakah ini benar? Siapa yang salah?” Pertanyaan itu muncul di benakku. Begitu tergiang suara gadis itu.”Aku calon istri
Andrian”. Benarkah itu? Ya Tuhan apakah ini semua memang benar atau kah ini
hanyalah sebuah kesalah pahaman saja. Aku terdiam dengan kebimbangan dan sejuta
pertanyaan yang berkeliaran dibenakku.
Ya Tuhan begitu sakit aku rasakan
ketika ku harus tau kabar yang begitu menyayat hati. Apakah ini semua benar?
Apakah Andrian memang menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa gadis itu hingga dia
berani berkata seperti itu. Kenapa dia tahu tentang ku dan tau no handphone ku.
Ku coba menahan tangisku, namun rasanya
aku tak sanggup. Aku tak sanggup menerima kenyataan jika nantinya Andrian
memang berbohong padaku. Aku tak sanggup membayangkan hal itu nantinya akan
menjadi nyata. Aku tak sanggup Tuhan.
“Biarkan aku menjadi imam dalam setiap
shalatmu” Tergiang kata-kata yang pernah Ian ucapkan padaku. Kata-kata itu
merupakan Ian yang begitu suci dan
sangat berarti bagiku. Apakah itu hanya rayuan gombal Ian untuk memperdayaku.
* * *
“Dir dengerin penjelasan aku, dia bukan
siapa-siapa aku. Dia Cuma mantan ku. Orang yang sering aku ceritakan padamu.
Aku mohon Dir, percayalah padaku”
“Rasanya aku tak tahu harus mempercayai
siapa saat ini Ian. Aku tak tahu apa-apa tentangmu, dan sepertinya aku memang
tak tahu siapa kamu”
“Dir, aku mohon percayalah padaku”
“Aku mohon biarkan aku sendiri Ian,
tinggalkan aku jika memang aku bukan lah satu-satunya orang yang ada dihatimu.
Biarkan aku pergi jika dia masih ada dihatimu.
Biarkan ku jalani hidupku
sendiri. Aku mohon!
Saat ini aku mencoba menenangkan
diriku. Aku ingin menguatkan diri, aku bingung siapa yang harus aku percaya
saat ini. Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Aku merasa di
permainkan dan aku merasa begitu hancur.
Tuhan, apakah ini memang sudah menjadi
jalan hidupku. Mengapa semuanya terasa begitu menyakitkan. Mengapa dia harus
lukai aku ketika aku berharap lebih padanya. Mengapa harus disaat seperti ini
wanita itu hadir diantara aku dan dia.
Aku begitu depresi dengan kejadian ini.
Apa harus aku biarkan Ian pergi dari hidupku. Tapi apakah semudah itu ku
hapuskan semua tentangnya. Apakah semudah ombak
menghapus nama yang dulu pernah Ian tulis di pasir. Apakah memang
semudah itu??
Hatiku bertambah hancur ketika beberapa
hari kemudian gadis itu menelponku menggunakan no Ian. Ya itu berarti Ian
memang sedang bersama gadis itu. Apa yang ia lakukan disana? Apa yang sedang
dia pikirkan tentangku. Apakah dia memikirkan betapa hancurnya aku ketika
tiba-tiba gadis itu datangdan menghancurkan semuanya. Menghancurkan kisah cinta
ku bahkan menghancurkan semua janji-janji yang pernah terikrar.
Beberapa hari berlalu, namun Ian seolah
menghilang ditelan bumi. Tak ada pesan darinya juga tak ada telpon yang selalu
dia lakukan ketika aku lupa untuk memberinya kabar. Kemana Ian sekarang? Apakah
dia tak merasa bersalah atas kejadian ini. Apa dia tak peduli betapa hancurnya
aku dengan kejadian ini. Apakah dia memang sudah kembali menjalani hari-hari
bersama gadis itu. Atau mungkin mereka sekarang mencoba membuka lembaran baru
dan mengubur semua tentang ku.
Tuhan rasanya tak sanggup kubayangkan
hal seprti itu benar-benar terjadi. Rasanya bumi berhenti berputar seketika.
Rasanya dunia begitu gelap dan sang surya seolah membenciku dan tak mau
menampakan diri.
Hari-hari rasanya begitu enggan ku lalui.
Kehidupan seolah terhenti dan aku hanya ingin mengakhiri semua kesakitan ini.
Bab Tiga belas
Layaknya karang, aku pun
Mencoba untuk selalu tegar
Hari-hari ku lalui setelah kejadian itu.
Aku mencoba bertahan layaknya karang yang begitu tegar berdiri meskipun ombak
berulang kali menghantamnya.
“Dira aku mohon padamu, semuanya hanya
permainannya. Dia sengaja menghapus no mu di kontak telpon ku. Aku mohon
padamu. Aku benar-benar mencintaimu” itu adalah isi pesan Ian di facebook ku.
Aku kembali menangis ketika aku
membaca pesan itu. Siapa yang harus aku
percaya sekarang ya Tuhan.
Aku biarkan pesan itu dan tak
memperdulikanya. Hatiku begitu sakit dan rasanya enggan untuk mengulang
semuanya. Ian berulang kali mengirimiku pesan, namun tak satupun aku hiraukan.
Terlalu sakit untuk memaafkan semuanya, terlebih aku tak tau siapa yang harus
aku percaya.
“Dir, plish dengerin penjelasanku”
Karena aku bosan dan tak ingin berlarut
dalam ketidak pastian, akhirnya akupun membalas pesan tersebut.
“Biarkan aku jalani hidupku sendiri.
Apa belum puas semua air mata ku karena mu? Apa lagi yang kau inginkan dariku?
Apa belum cukup semua kesakitanku karena kebohonganmu. Aku mohon akhiri semua
ini. Biarkan aku pergi darimu. Biarkan luka ini ku hapus sendiri”
Semua ku katakan dengan berlinang air
mata. Begitu beratnya ketika aku harus melepaskan Ian. Begitu sakit ketika aku
harus kehilangan sosok Andrian dan membiarkannya memilih wanita lain.
* * *
Hari-hariku berlalu dengan kehampaan
namun semuanya harus tetap ku jalani. Ku coba menghapus semua kenangan tentang
Ian bukan hanya itu namun menghapus semua janji-janji yang pernah terikrar
antara aku dan dia.
Jujur aku tak bisa melupakan semua
tentangnya. Begitu sulit bagitu kehilangan sosoknya. Begitu sakitnya ketika aku
harus jalani hari-hariku tanpanya.
“Dir, plis angkat telponya” Isi pesan Ian
yang terus berusaha menghubungiku namun tak pernah ku balas. Aku tak ingin
kembali menagis ketika aku mendengar suaranya karena semua hanya akan semakin
membuatku sulit untuk melupakannya.
“Dir, disini ada ade Ryan lho. Tadi dia
nanyain kamu. Om kapan ateu kesini lagi? Lucu tau. Mau ngomong sama ade Ryan
gak?”
Hatiku begitu berat ketika ku membaca
pesan itu. Aku tahu itu hanyalah cara Ian untuk meluluhkanku karena dia tahu
aku pasti merindukan ade Ryan. Rasanya aku ingin sekali mendengar suara ade
Ryan, namun aku tak ingin nantinya Ian kembali masuk dalam hidupku dan
membuatku semakin tak bisa melepaskannya.
Beberapa hari berlalu, aku pun jatuh
sakit karena pikiran yang begitu menyiksaku. Aku bertekad agar segera sembuh
karena minggu depan akan menjadi hari berharga dalam hidupku. Minggu depan aku
akan resmi mendapatkan gelar sarjana. Memang menjadi sebuah dilema untuku,
karena wisuda nanti Ian tak ada disampingku. Teringat kenangan ketika Ian
berjanji akan mendampingiku ketika saat wisuda nanti, namun semuanya hanyalah
menjadi kenangan yang memang harus aku hapuskan.
Ian sudah pergi dari hidupku. Ian bukan
milikku lagi dan mungkin dia sudah mendapatkan kebahagian diluar sana dan yang
pasti bukan denganku.
“Sayang, ayo diminum obatnya” kudengar
suara ibu sembari menyodorkan beberapa obat dokter kepadaku.
Tanpa kata yang terucap dari bibirku,
ku ambil obat itu dan segera ku minum.
“Ayo sekarang istirahat dulu ya, biar
wisuda nanti kamu sudah kembali fit”
Aku pun hanya melemparkan senyum tanpa
berkata apa-apa. Ku lihat punggung ibu semakin menjauh meninggalkan kamar ku. Dan
rasanya obat yang ku minum barusan mulai bereaksi. Ku tarik selimutku dan
bergegas memejamkan mata.
Bab Empat belas
Hari yang membahagiakan
Dan Bersejarah dalam hidupku
Tak terasa hari yang kunanti pun tiba.
Hari ini merupakan hari wisuda ku. Semua begitu sibuk mempersiapkan dan menanti
aku akan berada di atas panggung dengan mengenakan baju wisuda dan memegam
piagam dengan IPK yang memuaskan.
Aku tak ingin melihat semua orang
kecewa. Ku coba hapuskan semua kesedihanku setidaknya untuk saat ini. Ku
biarkan senyum itu mengembang dibibirku meski memang semuanya terkesan
dipaksakan. Tapi biarkan kesedihan ini hanya aku yang merasakan. Aku tak ingin
membagi kesedihanku kepada orang-orang yang aku sayangi.
Prosesi itu pun berjalan dengan lancar
dan begitu khidmatnya. Semua orang begitu serius mengikuti acara tersebut
sampai selesai. Tibalah sesi dimana semua orang bergembira dan mengabadikannya
dengan berphoto bersama keluarga dan orang-orang yang spesial bagi mereka. Berbeda
halnya dengan teman-temanku yang datang dengan didampingi oleh pasangan
masing-masing, aku hanya ditemani oleh keluargaku.
“Dira,,,” kudengar suara seseorang
memanggilku
“Andrian,,,” ujarku dengan ekpresi
kaget dan tak percaya
“ko,, kamu ada disini?
“Aku sengaja datang kesini untuk membuktikan
bahwa aku memang benar-benar mencintaimu”
“Selamat ya sayang” ujar seorang
perempuan yang datang menghampiriku
“Mba
Mira, ibu, bapak, kenapa semuanya ada disini” tanya ku kepada mereka. Mereka
hanya tersenyum seraya menyalami semua keluargaku dan memberiku selamat.
“Dir, kamu mau kan menikah denganku”
ujar Ian seraya mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Aku terdiam sejenak, karena aku tak
menyangka Ian akan melakukan hal seperti ini. Ku lihat wajah orang-orang
disekelilingku tanda meminta restu kepada mereka.
Merekapun tersenyum dengan mimik
kebahagiaan yang tak bisa mereka sembunyikan. Semua kesedihan itu berubah
menjadi kebahagian. Aku pun menangis namun bukan karena kesedihanku melainkan
sebuah kebahagian yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa
ku ungkapkan melalui air mata. Memang terasa begitu indah, karena selain hari
ini merupakan hari yang bersejarah dalam hidupku juga menjadi hari yang begitu
membahagikan dan tak kan pernah terlupakan.
Ian membuktikan rasa cintanya padaku.
Dia juga membuktikan semua janji yang pernah terucap dari bibirnya “dia akan
menjadi imam dalam setiap shalat-shalatku” dan tak lama lagi semua janji itu
akan menjadi nyata. Ian tak hanya akan menjadi imam dalam shalatku namun akan
menjadi iman yang akan menuntun ku ke syurga-Nya.
Bab Lima belas
Bintang itu akhirnya menjadi bintang dalam setiap malam
kelamku
“Tak kan ku biarkan malam mu gelap, meski
bintang enggan tuk menghiasi langit malam ini, namun aku akan mengantikan
bintang itu untuk selalu menghiasi malam-malam mu agar malam mu akan selalu
menjadi malam yang kau nantikan” Ujar Ian berbisik kepadaku.
“Sekarang aku tak butuh bintang-bintang
itu, karena aku tlah memiliki satu bintang yang lebih terang dibanding
bintang-bintang yang selalu ku nantikan kehadirannya di setiap malamku” aku
membalas berbisik padanya.
Kini Ian sudah menjadi milik ku, dia
sudah menjadi imam dalam setiap shalat-shalatku dan menjadi orang yang selalu
membimbingku untuk menuju Syurga-Nya. Saat ini aku tak merasa khawatir ombak
akan menghapuskan namu kami karena saat ini nama itu telah kami ukir dihati
masing-masing. Betapa bahagianya aku saat ini, karena semua janji yang dulu
pernah kami ikrarkan kini menjadi sebuah kenyataan.
THE
END
Langganan:
Komentar (Atom)