Rabu, 28 November 2012

Hanya Satu Bintang, dan itu bintangku



Terkadang cinta tak memerlukan alasan mengapa kau bisa begitu tulus mencintai seseorang, sama halnya ketika aku mencintaimu namun tak punya alasan yang jelas mengapa aku bisa begitu mencintaimu



Bab satu
Kampus itu
Kampus biru

Hari ini merupakan hari pertaman ku menyandang nama “Mahasiswa”.  Pagi ini begitu cerah, mentari begitu hangat menyapa kulitku seolah itu adalah caranya untuk menyampaikan semangat paginya untukku. Embunpun masih enggan meninggalkan rerumputan dan burung-burung begitu riangnya bernyanyi membuat semakin bersemangat untuk mengawali hari ini.
Nama ku adalah Nadira Indah Ramadhani. Aku adalah mahasiswa baru yang baru saja  terdaftar di sebuah perguruan tinggi yang orang-orang menyebutnya ‘Kampus Biru’ merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor. Hari ini hari pertama bagi ku mengikuti perkuliahan. Dengan semangat yang menggebu karena satu hal yang baru bagi ku belajar dengan menggunakan baju bebas bukan baju putih-abu lagi.
Suasana kampus masih agak sepi pagi ini, jam tangan yang menempel dilengan kiri ku  masih menunjukan pukul 06.40. Aku berjalan menyusuri bangunan-bangunan yang berjejer di sampingn kiri-kanan ku, tumbuh pula pohon-pohon yang dibiarkan rindang. Terlihat seorang bapak tua penyapu jalan sedang sibuk menyapu dan membakar daun-daun kering kering yang jatuh karena memang usia atau bahkan tiupan angin. Memang didalam kampus masih banyak pepohonan yang sepertinya dibiarkan tumbuh disana sebagai penyegar agar udara kampus tidak terlalu panas.
Asap putih mengepul di udara  memenuhi udara pagi ini bercampur dengan udara segar pagi hari yang menjadikannya sedikit tercemar. Terlihat orang-orang menutup hidung dan mulut mereka dengan tangan sambil berlari kecil ketika mereka melewati kepulan asap putih itu.
Sekilas terpikir  dibenak ku, manja sekali orang-orang itu baru saja sebentar mencium bau asap sudah menjauh seolah itu hal yang begitu menakutkan bagi mereka. Sedangkan terlihat bapak penyapu jalan itu sama sekali tidak merasa terganggu dengan kepulan asap tersebut, dia hanya asyik menyapu daun-daun kering itu dan mengumpulkannya dalam beberapa gundukan dan kemudian membakarnya.
“Hei Dira”ujar seseorang seraya menepuk bahu ku
Dengan agak sedikit terperanjat, aku pun menoleh mencari asal suara yang mengusik lamunan ku tadi.
“Hai Dita” balas ku seraya tersenyum
Dita adalah teman pertama yang aku kenal di kampus ini, selain satu asrama dengannya entah sebuah kebetulan atau apa ternyata dia pun sekelas dengan ku.
“lagi apa kamu, ko pagi-pagi ngelamun sih?! Ayo kita ke kelas nanti kesiangan lagi” ujarnya sambil menuntun  lengan ku setengah memaksa.
Aku  hanya mengikutinya tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan tadi. Kami  pun berjalan menuju kelas perkuliahan pagi ini. Setibanya dikelas yang di tuju, bersyukur dosen mata kuliah pagi ini masih sibuk menyiapkan absensi di ruang dosen dan  dengan kata lain kami berdua  tidak terlambat masuk. Aku  pun menghela nafas lega dan membiarkan udara memasuki rongga dada yang tadinya begitu sesak akibat tadi kami berlari seolah menjadi atlet maraton yang sedang mengikuti kejuaraan.
* * *
Dreetttt,,,,dreetttt,,,, getar handphone ku menandakan ada pesan masuk. Langsung kubuka pesan tersebut dan ternyata pesan dari Bryan teman ku dan Dita. Ya kami bertemu di pengenalan akademik dan sejak saat itu kami mulai akrab.
“Dit, Bryan sms nih, katanya dia nunggu kita ditaman kampus” ujar ku kepada Dita.
“Ok, bales aja bilang nanti kita kesana” jawab Dita menyuruhku membalas pesan itu.
“Ok anak-anak, sampai disini saja pertemuan kali ini, sampai ketemu minggu depan” ujar dosen mengakhiri perkuliahan kali ini.
Setelah membereskan catatan, kami pun langsung bergegas menuju tempat Bryan menunggu.
Dari kejauhan Bryan terlihat sedang duduk di taman kampus, ditemani hilir mudik mahasiswa lain yang berjalan melewati taman itu.
“Hai Bryan” sapa ku seraya menghampiri tempat duduknya
“Hai Dir, hai Dit”
“Makan yuk, laper nih” ujar Dita mengajak kami untuk meninggalkan tempat itu.
Tanpa menjawab ajakan Dita, kami pun bergegas meninggalkan taman kampus mencari tempat makan untuk melepas rasa lapar kami. Dan menemukan tempat makan yang sepertinya nyaman dan juga asyik untuk mengobrol.
Kami menyantap hidangan di selingi becandaan dan obrolan tentang pengalaman kami hari ini. Hal itu lah yang membuat semua terasa mengasyikan. Berkumpul dengan sahabat untuk sekedar menghilangkan rasa lelah hari ini.













Bab Dua
Facebook
Awal kutemukan engkau

Karena hal tren dan  mode anak-anak masa
kini yang makin marak menggunakan jejaring sosial seperti facebook dan twitter, membuatku pun terjebak didalamnya. Aku pun mengikuti hal tersebut dengan bergabung didalam facebook dan twitter. Satu demi satu pertemanan diterima dan lama kelamaan banyak orang-orang yang tak pernah kukenal menjadi akrab denganku.
Malam ini aku hanya berdiam diri di kamar asramaku dengan ditemani laptop kesayanganku dan juga lagu-lagu Pop Indonesia. Ku buka akun facebook ku hanya untuk iseng menghilangkan rasa kesepian.
Tak lama setelah ku buka akun facebook ku, ternyata sudah banyak yang mengajakku chating, atau bisa di sebut ngobrol lewat jejaring sosial itu. Ada seseorang diantara teman chatingku yang mengajakku berkenalan karena kebetulan aku pun memang tak mengenal orang tersebut. Karena tak ingin di anggap sebagai orang sombong, maka aku pun membalas pesannya dan kami pun mengobrol melalui facebook tersebut.
Setelah lama ngobrol, ternyata dia orangnya asyik untuk diajak ngobrol dan berbagi. Dia, Muhammad Andriana Yusuf  yang lebih akrab ku panggil Andrian. Dia seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Sukabumi. Kami pun akhirnya saling bertukar nomer telpon satu sama lain. Ya aku fikir tak ada salahnya karna itu sebagai ajang silaturahmi.
* * *
            Dreeettt,,,, dreetttt,,, drettt,,,, ku rasakan handphone ku begetar menandakan ada yang mengirim pesan. Ku ambil handphone yang berada di saku depan celan jeans ku.
“Hai Dira,,,, ini number hp ku, Andrian” isi pesan tersebut
Sambil tersenyum, aku pun langsung membalas pesan tersebut,  dan itu menjadi awal pertemanan kami. Kami mencoba saling mengenal satu sama lain, bercerita tentang diri masing-masing juga tentang keluarga dan banyak lagi hal yang kami bicarakan. Memang hal itu rasanya terlalu berlebihan bagi seorang sahabat yang baru saja saling mengenal berbagi informasi baik itu keluarga dan kehidupan pribadi.
Sekilas mirip berita-berita di Tv yang menyatakan bahwa maraknya penculikan  atau kejahatan melalui dunia maya. Lucu memang karena aku pun sempat berpikir seperti itu. Dia hanya orang asing yang ku kenal melalui facebook. Apa benar dia adalah orang baik, padahal aku kan memang belum pernah bertemu langsung dengannya. Awalnya memang enggan untuk saling menceritakan kehidupan pribadi, namun entah lah rasanya rasa curiga itu pun musnah ketika kita sering mengobrol lewat telpon dan aku rasa dia memang orang baik menurutku.
Tapi tak bisa ku pungkiri aku merasakan hal yang tak biasanya aku rasakan ketika aku menemukan sahabat yang bisa ku sebut baru bagiku. Aku adalah pribadi yang sulit untuk membuka diri menceritakan tentang keluarga dan kepribadian ku. Hanya orang-orang tertentu yang membuatku nyaman untuk bisa mengungkap semua gundah, keluh-kesah dan semua cerita baik itu tentang diriku sendiri maupun tentang keluarga ku. Dan semuanya menjadi berbeda ketika aku mengenal Andrian. Aku merasa begitu nyaman untuk aku berbagi kebahagian dan juga keluh-kesahku.












Bab Tiga
Awan itu melindungiku
Dari teriknya matahari

Dir, kita putus” kudengar suara disebrang telepon sana. Kata yang begitu singkat namun membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Rasanya saat ini dunia begitu gelap tak ada cahaya sedikitpun dan rasanya langgit jatuh menindihku, begitu berat dan menyesakan dada.
Tanpa terasa butiran air hangat jatuh dari kedua belah mataku mengalir membasahi pipi. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini. Aku hanya bisa terdiam dengan handpone yang masih berada di telinga sebelah kanan ku. Kemudian aku terduduk masih dengan bulir-bulir air mata yang tak hentinya mengalir.
Suara tadi adalah suara Lucky, pacarku yang sudah setahun ini menjalin hubungan denganku. Dia memutuskan hubungan begitu saja tanpa ada alasan kenapa terjadi seperti ini. Terasa begitu menyakitkan memang dan pastinya membuatku sayang terluka.
* * *
Keesokan harinya aku menghubungi Andrian dan menceritakan kejadian semalam. Aku menangis dan mencurahkan semua kekesalanku, kesedihan ku dan rasa kecewa ku kepada Andrian. Dia memberikan ku waktu untuk meluapkan kemarahan dan membiarkan ku menangis. Dengan  begitu sabarnya dia mendengarkan semuanya, kemudian dia mencoba menenangkanku dengan nasihat-nasihat yang begitu menyejukan.
Setiap hari bahkan setiap waktu dia selalu memastikan kalau keadaanku baik-baik saja. Tak lupa dia selalu memberiku semangat agar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dia begitu baik untuk seorang sahabat, dia layaknya seorang kakak yang tak mau melihat adiknya menagis dan bersedih.
Dibutuhkan waktu yang cukup lama untukku bisa melupakan seseorang yang pernah hadir dan mengisi hari-hariku. Dan dibutuhkan waktu yang lama pula untuk menyembuhkan luka yang pernah tertoreh di hati. Memang tak semudah membalikan telapak tangan ketika kita berusaha untuk bisa kembali menjalani hari ketika hati memang sudah tersakiti. Namun Andrian dengan sabar membantuku untuk melupakan luka itu. Terkadang aku merasa hidup begitu sia-sia dan berpikir aku tak bisa hidup tanpa Lucky.
Dengan proses yang cukup lama Perlahan aku pun bisa melupakan luka yang begitu sakit ku rasakan dan itu berkat Andrian, karena dia lah yang menjadi penyemangat untukku. Karena Andrian lah aku merasa hidupku tak sendiri, dan merasa betapa beruntungnya aku memiliki sahabat seperti Andrian.
Andrian bukan hanya sekedar sahabat, namun dia juga menjadi kakak bagiku. Selalu memberiku nasihat-nasihat juga perhatian yang lebih dibandingkan dengan sahabat-sahabat lainnya. Tak ada hal yang kami sembunyikan satu sama lain. Sekecil apapun hal itu pasti akan kami bagi. Biarpun itu merupakan hal yang tak penting namun terasa penting ketika semua di bagi dengan sahabat.
Aku mendapatkan sosok kakak yang selama ini aku dambakan, karena memang aku merupakan anak tunggal dan tak ada orang yang bisa ku bagi cerita selain sahabat. Aku memang mendambakan mempunyai kakak untuk sekedar berbagi cerita seputar keseharian ku, bercerita tentang keluh-kesah serta banyak lagi. Dan dengan hadirnya Andrian dalam keseharianku itu bisa mengobati rasa rinduku terhadap sosok kakak yang selama ini aku idamkan.












Bab Empat
Kau layaknya bintang yang hadir
ketika kelam malam mulai menyapa

Aku takut gelap, aku benci ketika gelap menghampiri ku, aku tak ingin mentari lenyap karena hanya akan menyisakan kegelapan” ujarku kepada Andrian melalui saluran telpon.
“Kenapa kamu harus takut dengan gelap, justru dengan adanya kegelapan membuat kita bisa melihat indahnya bintang di atas sana” ujar Andrian kepadaku.
“Coba kamu lihat di atas sana, langitnya indah bukan karena bintang-bintang yang menghiasi angkasa raya. Meskipun bintang tak bisa menerangi malam mu layaknya matahari yang bisa menerangi hari-harimu dan menghilangkan rasa takutmu akan kegelapan, tapi bintang juga bisa menghiasi malam-malam sepimu agar kau tak merasa kesepian”.
Aku pun tersenyum dan merasakan perkataan Andrian benar, karena bintang malam begitu setia menemani kesemdirianku dan rasanya aku tidak merasa kesepian karena bintang-bintang itu selalu berkerdip seolah tersenyum kepadaku.
“Aku berharap kamu lah yang menjadi bintang yang akan selalu menemani malam ku dan menghiasi kegelapan malam yang menyapaku” ujarku kepada Andrian.
“Ya, aku janji, meskipun aku tak bisa menjadi mentari untukmu, tapi aku akan selalu menjadi bintang yang menemani malam gelapmu”


Bab Lima
Kita selalu saling
menguatkan

Aku bosan Dir, menurutmu apa yang harus aku lakukan saat ini” ujar Andrian di sebrang sana
Aku mencoba menenangkanya dan mencoba menjadi tempat dimana dia bisa mencurahkan semua rasa yang dia rasakan saat ini. Aku tahu dia merasa kesal, marah, kecewa, tersakiti. Rasa yang dulu sempat menghampiriku beberapa bulan lalu, dan sekarang menghampiri Andrian juga.
“Sabar Ian, Tuhan pasti punya rencana lain dibalik ini semua”
“Rasanya sakit Dir, ketika kita begitu tulus mencintai seseorang namun orang itu mengkhianati kita. Aku berikan semua yang dia minta, waktu ku, perhatian, apapun yang dia mau aku turutin. Apa semuanya masih kurang buat dia. Aku selalu mencoba untuk setia, tapi apa yang aku dapat dia hanya menjadikanku pelariannya saja” Adrian bercerita semua kekesalannya.
“Orang seperti itu gak pantes buat kamu Ian, yakinlah di luar sana masih banyak orang-orang yang ditakdirkan Tuhan untuk mendampingi hidupmu” ujarku mencoba menyemangati Andrian.
Aku merasa miris mendengar cerita Andrian. Orang sebaik Andrian disia-siakan begitu saja. setahu aku Andrian memang tipikal cowo yang setia dan begtu tulus mencintai seseorang. Apapun yang dia punya pasti akan dia berikan selama itu memang membuat pasangannya bahagia. Dan dia orang yang paling tidak mau menyakiti seseorang dan membuat orang itu menangis. Sebenci apapun dia kepada seseorang dia tak kan menyakiti orang itu.
Saat ini aku berusaha melakukan hal yang pernah Andrian lakukan kepada ku ketika aku berada di posisinya saat ini. Dia begitu terpukul dengan perlakuan mantan kekasihnya dan aku tak ingin melihatnya semakin terpuruk. Aku mencoba memastikan keadaannya baik-baik saja dan selalu mengiriminya kata-kata penyemangat agar dia kembali bisa menikmati hari-hari nya.
Aku tak ingin melihat Andrian bersedih karena kesedihannya bisa menjadi sedihku juga. Aku berusaha untuk membuatnya kembali tersenyum. Itu lah hal yang selalu aku dan Andrian lakukan disaat salah satu dari kami merasa kehilangan semangat hidup dan merasa dunia ini tak adil. Kami selalu saling menguatkan satu sama lain dan selalu berbagi canda tawa juga kesedihan.
Bab Enam
Bintang itu hilang terhalang
oleh kelamnya awan hitam

Sibuk !!!
Itulah kata yang saat ini mungkin menjadi pemisah antara kau dan aku. Aku sibuk dengan aktivitas kuliah dan organisasi ku, dan sepertinya kau pun sibuk dengan dunia baru mu yaitu dunia kerja.
Berbulan-bulan kita jalani hari-hari tanpa ada kabar yang biasanya kita lakukan sesibuk apapun itu. Tak berani ku memulai untuk menghubungimu, meski rasanya ingin sekali aku tahu bagaimana kabarmu.
“Telpon, ngga,, telpon,,ngga” pikiran itu bermain di benakku
“Mmmm rasanya aku tak berani untuk mengganggunya” gumamku dalam hati.
Aku pun mengurungkan niatku untuk tahu bagaimana kabarmu saat ini. Jujur, aku merasa kesepian karena kau menghilang begitu saja. Tak ada ucapan selamat pagi yang selalu kau lakukan untuk membangunkanku. Tak ada kata-kata penyemangat ketika aku membutuhkan penyemangat. Tak ada ocehan-ocehan mu yang kadang membuatku kesal. Ya aku sendiri sekarang, sendiri melewati malam-malam kelam tanpa adanya bintang-bintang yang menghiasi langit malam ku.
Aku merindukan bintang itu, bintang yang selalu menghiasi malam dan menjadikan malam terlihat begitu indah. Aku tak ingin awan itu menyembunyikan bintangku.
Rasanya ingin sekali aku mendengar suaramu, setidaknya aku bisa mengetahui bahwa kabarmu baik-baik saja. Saat ini aku ingin berbagi dengan mu. Berbagi canda tawa, kesedihan serta berbagi cerita  seputar apa yang aku lewati hari ini. Jujur aku memang merindukanmu, merindukan sosok sahabat yang biasanya selalu ada untukku.
Layaknya hariku yang gelap, malam ku pun kini terasa gelap meskipun ada beberapa bintang yang menghiasi langit malam ini, namun rasanya tetap saja tak seterang ketika kita saling berbagi. Mungkin saat ini bintang itu sedang meredup karena awan gelap itu menyilimuti langit. Ingin rasanya aku mengusir awan hitam yang menghalangi bintangku untuk bersinar dan selalu membiarkan bintang itu tetap bersinar agar malam ini tak menjadi kelam.
“Tuhan semoga keadaannya baik-baik saja disana. Semoga bintang itu bersinar untuk dirinya sendiri meski orang lain tak bisa melihat sinarnya” doaku dalam hati.
Bab Tujuh
Bintang itu kembali menyinari
malam-malam gelapku

kringgg,,,, kringgg,,,, ku dengar suara handphone ku berbunyi, lumayan mengagetkan ku karena saat ini aku sedang teringat tentang Andrian. “Bagaimana ya kabar Andrian sekarang, semoga dia baik” gumamku dalam hati.
“Hah Andrian?!” aku terkaget ketika aku melihat panggilan masuk dan ternyata itu Andrian.
“Hallo”
“Iya hallo, apakabar Dira? Sapa penelpon di sebrang sana.
“Ian,,,, kamu kemana aja sih, kenapa gak ada kabar” sambar ku langsung tanpa menghiraukan pertanyaan Andrian tadi.
“Maaf,,maaf,, kemarin-kemarin aku sibuk Dir, maaf ya karena baru bisa hubungi kamu sekarang” ujar Andrian menjelaskan kepadaku.
“Kamu jahat, kenapa sampai gak sempet sms aku. Setidaknya kamu kasih aku kabar kalau saat itu kamu sibuk dan gak bisa di ganggu” Ujarku dengan nada kesal.
“Iya,,iya aku ngaku salah. Aku janji gak akan ngulangin hal ini lagi deh. Udah kita baikanya” Ujar Ian merayuku agar aku memaafkannya.
Kesal namun bercampur senang juga karena akhirnya kami bisa berkomunikasi kembali. Kami langsung bercerita kejadian-kejadian yang kami alami selama beberapa bulan kami tidak saling memberi kabar.
Dia menceritakan mengapa dia menghilang dan tak memberiku kabar belakangan ini. Aku mengerti posisinya, dia ingin fokus dan menyibukan diri untuk bisa melupakan gadis itu. Namun syukurlah akhirnya dia bisa kembali seperti dulu lagi, kembali menjadi Andrian yang pertama ku kenal.
Semua kembali seperti semula, saling memberi kabar dan selalu berbagi bukan hanya senyuman namun tangisan pun selalu kami bagi.
Bintang itu telah kembali menghiasi angkasa raya. Menerangi malam meski sinarnya tak dapat menandingi sinar sang surya, namun memberikan keindahan bagi sang dewi malam.
Kini tak ada lagi malam gelap yang menemaniku, karena bintang itu selalu berusaha memberikanku kedamaian dalam kelamnya malam.

Bab Delapan
Tiga hari bersamamu
Melukiskan indahnya cerita

Hari ini masih begitu pagi, burung masih enggan untuk bernyanyi, mentari pun masih malu-malu menampakan diri dan masih bersembunyi di tebalnya kabut pagi. Namun semua tak membuat semangat ku luntur untuk mengawali hari ini. Terlebih hari ini aku berniat untuk melancong ke kota Sukabumi. Kota yang namanya sudah tak asing lagi bagiku karena sebelumnya aku pernah mempunyai teman yang kebetulan tinggal di kota itu.
Awalnya aku tak yakin dengan ucapan Ian yang memintaku untuk  kita bertemu di Sukabumi, namun karena Ian mencoba meyakinkanku lama kelamaan akhirnya aku berusaha menyakinkan diri bahawa ini adalah permintaan yang serius. Kami pun menentukan waktu untuk bertemu dan ditentukan lah hari ini.
Dengan menggunakan bis, ku habiskan 4 jam waktu ku untuk sampai ke Sukabumi. Terkesan manja memang karena selama perjalanan Ian begitu memastikan kalau aku akan baik-baik saja. Setiap saat dia menelponku dan bertanya saat ini aku masih berada dimana. Aku mengerti kekhawatirannya, karena mau tak mau dia yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu denganku. Memang terkesan berlebihan karena aku bukan anak kecil lagi. Tapi aku pahami semua itu.
Perjalanan yang cukup melelahkan memang namun semua terbayar sudah sesampainya aku di kota itu. Kota yang tadinya hanya ku kenal namanya saja namun detik ini aku berada disini di kota Sukabumi.
Setibanya aku di pemberhentian terakhir aku langsung merasakan udara malam yang cukup dingin sungguh berbeda dengan Bogor yang begitu panas. Tak perlu menunggu lama sosok seorang lelaki yang bersepeda motor berwarna merah pun menjemputku. Tanpa banyak bertanya, karna aku yakin itu adalah Adrian orang yang aku tuju. Saat itu jam tangan ku menunjukan angka 19.30 Kami pun langsung bergegas mencari tempat makan karena dia tau 4 jam perjalanan pasti begitu menguras tenaga ku.
Dipilih lah sebuah tempat makan yang menyediakan menu bakso dan banyak macam. Kami memesan dua mangkok Bakso untuk sekedar menghilangkan lapar dan juga rasa lelah ku karena perjalanan. Sambil menikmati indahnya malam di sudut kota Sukabumi seraya ditemani semangkok baso dengan obrolan yang mengalir layaknya sahabat lama yang memang baru bertemu kembali. Kami tak merasa canggung sedikitpun dan merasa bukan orang asing yang pertama bertemu.  Setelah puas menikmati indahnya suasana malam di kota Sukabumi, kami pun bergegas pulang, karena pasti orang tua Andrian sudah khawatir dengan keadaanku.
* **
Tak terasa kami pun sampai disebuah rumah yang terlihat sederhana namun terasa begitu yaman. Baru saja aku turun dari motor kulihat seorang ibu paruh baya dan suaminya membukakan kami pintu dan menyambutku dengan begitu hangatnya.
“Eh sudah sampai ternyata,,ayo masuk “ ujarnya kepada ku dengan senyum yang begitu menyejukan hati
“Iya ibu terimakasih” jawabku sambil tersenyum. Aku pun langsung mencium tangan kedua orang tersebut seraya memperkenalkan diri. Mereka adalah orang tua Adrian.
“Ayo Ian  antar dulu temannya kekemar” ujar ibu menyuruh Andrian
Andrian pun menunjukan ku kamar yang akan aku tempati selama aku berada disana. Aku pun mengikutinya dan menaruh barang-barangku disana. Setelah selesai cuci muka dan berganti baju aku kembali ke ruang tamu tempat Andrian dan orang tuanya mengobrol.
“Sukabumi dingin ya bu” ujarku berbasa-basi
“Iya neng (panggilan orang-orang Sunda untuk perempuan yang lebih muda) disini emang dingin, beda dengan di Bogor sekarang ya” ujar ayah Andrian
“Gimana kuliahnya sudah semester berapa sekarang?”
“Saya baru semester VI pak, alhamdulillah sejauh ini kuliahnya lancar”
Kami akhirnya larut dalam obrolan. Mereka begitu ramah padaku menyambutku layaknya menyambut keluarga mereka sendiri.
“Neng bapak sama ibu tidur duluan ya, sudah ngantuk siap-siap untuk besok mau pergi ke Jakarta” . kebetulan memang bapak dan ibu Andrian besok mau menghadiri acara saudara mereka yang di Jakarta.
“Oh iya,, bu pak silahkan tidur duluan” ujarku dengan tersenyum
“Kalau butuh apa-apa mah bisa sama Andrian saja”
“Iya pak,bu terimakasih”
Mereka pun bergegas memasuki kamar tidur. Karena memang waktu sudah menunjukan 21.30. Dan sekarang hanya aku dan Andrian, aku bercerita selama perjalanan ku tadi.
“Tadi berangkat dari Bogor jam berapa” ujar Andrian kepadaku
“Aku berangkat sekitar jam 14.00. Kebetulan tadi jalannya gak macet jadi gak telalu lama di jalan juga”
“Oh syukurlah, tadi aku sempat khawatir juga jangan-jangan macet di jalan atau malah tersesat” ujarnya sembari meledek ku
“Tersesat?! Aku kan udah gede” Jawabku sambil mencibirnya.
“Hehehe,,, iya,,iya,,” Ujarnya seraya meledekku.
Tak lama setelah itu, ia pu berpamitan kepada ku untuk bergegas tidur karena memang sudah ngantuk katanya. Dengan berat hati aku pun mengijinkannya untuk tidur duluan.
Tinggal aku sendiri diruang tamu itu. Dengan ditemani laptopku aku pun mendengarkan musik namun tidak terlalu keras seperti biasanya yang aku lakukan kalau aku di asrama aku tak enak karena takut mengganggu tidur mereka.
Setelah merasa agak ngantuk, aku bergegas memasuki kamar tidur yang mereka sediakan untukku. Ku matikan laptop dan kunyalakan musik di handpone sambil ku pasang earphone ke telingaku alasannya biar suaranya tidak terdengar keluar dan ku dengarkan lagu-lagu untuk menghantarku tidur.
* * *
Karena suasana rumah sudah sepi, ku pun berusaha untuk memejamkan mata ku, ya meski rasanya begitu sulit. Ku biarkan lampu kamarku menyala karena aku benci dengan kegelapan. Ummmftt tepatnya mungkin bukan benci namun aku takut dengan kegelapan.
Tak lama kemudian lampu kamarku berkedip-kedip lalu ku dengar ledakan karna mungkin adanya konslet.  Suasana semakin tak mengenakan, aku merasa begitu takut akupun memaksakan mataku untuk terpejam. Namun ketika aku membuka mata, keadaan sekelilingku  ternyata menjadi gelap gulita.
Wah bukan main kagetnya, aku pun langsung terperanjat dari tempat tidurku dan merasa kebingungan. Karena panik bercampur takut, ku cari handpone dan ku coba untuk menelpon Andrian.  Berkali-kali aku menelpon Andrian namun tetap saja tak ada jawaban, pasti dia sudah tertidur lelap gumamku dalam hati. Ku coba memberanikan diri untuk coba bertahan dan memejamkan mata, namun sayangnya tetap saja aku tak bisa. Kembali ku coba menghubungi Andrian berharap kali ini dia mengangkat telponku. Berkali-kali aku mencobanya dan akhirnya dia pun menganggak telponku.
“Mmmmmm,,siapa? Tanyanya dengan suara yang lemas menandakan bahwa dia memang benar-benar sudah tertidur pulas.
“Ini aku Dira”ujarku pelan
“Mmmm,,ada apa?
“Lampu kamar aku mati”jawabku sedikit ketakutan
Tak lama kemudian kudengar langkah kaki menuju ke kamarku.
Kreeek,,,kudengar suara pintu kamarku dibuka. Ku lihat sosoknya yang semponyongan seraya mengucek kedua matanya karena ngantuk. Aku merasa sedikit lega karena akhirnya dia terbangun juga.
“Kenapa lampunya?
“Gak  tahu tadi tiba-tiba lampunya mati”
Aku pikir yang mati itu hanya kamar ku saja, namun ternyata seisi rumah itu gelap. Andrian pun keluar mencoba melihat apakah ini memang mati lampu atau kah hanya rumah ini saja yang mati. Karena takut aku pun mengikutinya keluar karena tak mau sendirian di kamar yang gelap. Dia membetulkan saklar yang ternyata hanya rumah ini saja yang mati. Akhirnya lampu pun kembali menyala. Namun sialnya kamar ku masih saja dalam keadaan gelap, mungkin dikarenakan konslet dan menyebabkan lampunya meledak.
Karena malam sudah semakin larut dan sepertinya tak ada lagi warung yang masih terbuka, Andrian menyalakan lilin untukku karena aku tak mau tidur dalam keadaan gelap. Tadinya aku tetap saja menolak karena alasan takut. Namun dia membujukku dan mencoba menenangkanku.
Setelah aku merasa lebih tenang, dia pun berpamitan kepada ku untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya. Karena tak tega melihatnya begitu mengantuk aku pun membiarkannya pergi.










Bab Sembilan
Pelabuhan Ratu
Menuliskan cerita juga nama kita
Bukan hanya di pasir namun juga di hati

Dreeettt...drettt...drettt..suara handphone ku mengagetkanku dan membuatku terbangun.
“Hallo” sapa ku ketika mengangkat panggilan masuk dengan nada suara yang masih mengantuk.
“Ayoo, bangun” ujar si penelpon disebrang sana memastikan ku agar tidak bangun terlalu siang, karena dia tahu kalau kebiasaan ku di asrama bangun siang.
“Iya ini udah bangun” . Jawabku dengan keadaan yang masih mengantuk. Udara pagi Sukabumi menurutku begitu membuat mataku enggan terbuka. Masih ngantuk memang karena dengan kejadian semalam membuatku tak bisa memjamkan mata. Namun mau tak mau aku harus bangun karena tak enak dengan orang-orang rumah. Ku matikan telpon dan ku bereskan tempat tidur kemudian keluar kamar untuk ke kamar mandi.
“Selamat pagi” suara itu terdengar ketika aku baru saja membuka pintu kamar. Ternyata Andrian dan orang tuanya sedang menonton TV.
“Pagi”
Aku bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu dan langsung shalat subuh. Pagi ini memang masih terlalu pagi untuku jam dinding masih menunjukan angka 04.30.
Setelah selesai sembahyang, aku keluar kamar dan menemui Andrian dan keluarganya. Ku lihat ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami pagi ini.langsung saja ku hampiri beliau untuk sekedar membantunya menyiapkan sarapan.
“Ada yang bisa Dira bantu bu” tawarku kepada ibu ketika sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Gak usah neng, kerjaannya ga banyak ko, nonton TV saja sana sama bapak juga Ian” ujar ibu kepada ku.
Aku kembali ke ruang keluarga tempat Andrian dan bapak sedang asyik menonton berita pagi ini. Aku duduk di sebelah Andrian dan meletakan handphone ku di meja yang berada di depanku.
“Gimana neng nyenyak tidurnya”
“Alhamdulillah pak, semalam nyenyak mungkin karna cape juga. Udaranya dingin ya pak” Aku tidak menceritakan kejadian semalam yang membuatku begitu menakutkan.
“Iya neng Sukabumi memang dingin. Apalagi kalau menjelang subuh. Neng  hari ini ibu sama bapak mau ke Jakarta, ga pa pa di tinggal di rumah? Bukannya ga mau nyambut neng disini. Kebetulan ibu sama bapak memang ada acara sampai hari minggu nanti”
“Oh iya pak, bu gak apa-apa”
“Nanti juga ada Mira kakanya Ian ko kesini, jadi kalau perlu apa-apa bisa minta tolong teh Mira atau Ian aja”ujar ibu seraya tersenyum
“Oh Ian punya kaka bu?
“Iya tapi sekarang sudah tidak tinggal disini lagi tinggal sama suaminya sekarang mah. Tapi rumahnya tidak begitu jauh ko”
“Ayo sarapan dulu yuk, kata Ian mau jalan-jalan ke Pelabuhan Ratu ya. Iya mumpung lagi ada di Sukabumi ya neng”
Kami pun sarapan bersama-sama. Terasa kebersamaan yang begitu akrab. Kebersamaan yang memang jarang ku dapati ketika aku berada di rumah. Aku sudah terbiasa hidup jauh dari orang tua dan ketika ada waktu kami bertemu rasanya jarang sekali kami bisa meluangkan waktu sekedar bercengkrama dan makan bersama. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga sepertinya mereka lupa masih punya anak yang masih memerlukan kasih sayang mereka.
* * *
Seusai sarapan kemudian aku langsung mandi dan bersiap-siap untuk berkeliling hari ini. Tujuan kami hari ini yaitu pantai Pelabuhan Ratu yang menjadi objek wisata pantai di Sukabumi. Karena kali pertamanya bagiku jalan-jalan di Sukabumi, aku pun begitu bersemangat untuk memulai liburanku di kota Sukabumi ini. Kami pun berpamitan kepada bapak dan ibu.
“Bu, pak, Dira sama Ian berangkat dulu ya”
“Iya hati-hati neng, Ian juga hati-hati bawa motornya jangan ngebut”
“Nanti ibu minta maaf ya neng kalau pas pulang nanti ibu sama bapak sudah tidak dirumah”
“Iya bu, pak hati-hati juga di jalan”
Kami pun bergegas pergi, namun tak lupa aku sempatkan mencium tangan mereka terlebih dulu sebelum kemudian melakukan perjalanan.
Perjalanan yang harus kami tempuh lumayan jauh menghabiskan waktu 3 jam perjalanan dari pusat kota Sukabumi. Memang pasti akan menjadi perjalanan yang melelahkan apalagi kami menggunakan sepeda motor.
“Jauh juga ya Ian perjalanannya” ujarku membuka pembicaraan.
“Iya Dir, lumayan jauh”.
Sepanjang perjalanan pun kami habiskan dengan mengobrol dan sesekali di selingi becandaan untuk mencairkan suasana canggung antara kami. Sehingga membuat kami merasa layaknya teman lama yang kembali bertemu, bukan teman yang pertama bertemu. Ku rasakan suasana  akrab yang begitu hangat. Becandaan dan pembicaraan yang mengalir hingga membuat suasana menyenangkan.
* * *
Deburan ombak serta kencangnya angin yang bertiup menghilangkan rasa lelah selama perjalanan menuju pantai.
“Wow pemandangannya keren” ujarku dengan ekspresi yang begitu takjub melihat pemandangan di hadapanku.  Ian hanya tersenyum sambil menaruh helm di kaca spion motor.
“Mau kelapa muda gak” tanya Ian kepada ku
Tanpa menunggu jawaban dariku, Ian pun berlalu menghampiri bapak penjual kelapa muda yang berada di pinggir jalan. Aku menghampiri tempat duduk yang menghadap langsung ke pantai. Ku lihat deburan ombak yang seakan berkejaran menghempas batu-batu karang yang berada didepannya. Anak-anak kecil dengan asyiknya bermain di pasir putih yang terhampar luas.
“Ayo, malah melamun” tegur Ian mengagetkan ku seraya menyodorkan ku kelapa muda yang berwarna hijau begitu menyegarkan. Suasana hari ini begitu mengasyikan, meneguk kelapa muda seraya ditemani deburan ombak dan tiupan angin pantai yang menyapa.
Setelah puas menikmati suasana di pinggir pantai itu, kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke pantai-pantai selanjutnya. Memang Pelabuhan Ratu memiliki banyak sekali pantai-pantai yang terhempar luas.
“Biasanya disini gak terlalu rame Dir, mungkin karena ini libur panjang makanya banyak yang berkunjung kesini”
Memang benar kata Ian mungkin karena hari ini hari libur panjang banyak pengunjung yang berasal dari luar kota sengaja datang kesini. Karena sepanjang perjalanan banyak ku lihat kendaraan yang berplat B dan D.
Kami pun sampai di tempat yang kami tuju. Tapi pemadangan pantai yang ada didepanku pun ternyata  tak kalah indahnya dengan pantai yang sebelumnya kami kunjungi.
“Ian ayo kita berenang” Ajak ku seraya menarik lengan Ian. Ia pun hanya mengikuti ku dengan senyum di bibirnya.
“Ian aku pengen berfoto deket perahu” ujarku memaksa.
“Iya sini aku fotoin, mau di foto dimana saja, kapan lagi kan ke Pelabuhan Ratu” Ujarnya seraya mencibirku.
“Ian naik perahu yuk” ajakku setengah memaksa Ian.
“Aduh panas Dir, main pasir aja ya”
“Gak mau, aku maunya naik perahu Ian” pintaku dengan memelas.
Dengan berat hati dia pun akhirnya memenuhi permintaanku.
“Nah gitu dong. Jangan cemberut, jelek tau” ledek ku kepada Ian.
Kami pun larut dalam suasana indahnya pantai Pelabuhan Ratu. Ditemani deburan ombak juga perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar di pelabuhan. Terlihat juga perahu-perahu yang sedang berlayar di tengah deburan ombak, orang-orang  asyik berenang tanpa menghiraukan kencangnya debur ombak sore ini. Cukup menghilangkan penat rutinitas keseharian yang kami lakukan, dan di hari inilah sengaja kami habiskan untuk sekedar  menyegarkan pikiran.
Setelah puas berlayar di tengah deburan ombak, kami pun kembali ke pantai. Ku lihat Ian sedang asyik menuliskan namaku dan namanya diatas pasir.
“Kenapa menulisnya dipasir, tak lama juga ombak akan menghapusnya dan tak kan menyisakan apa-apa” Ujar ku.
“Aku tahu pasti ombak akan datang dan menghapusnya, biarlah ini hanya sebagai kenangan untuk kita. Biarkan yang abadi haya di hatiku karena aku pun menulis nama mu bukan hanya di pasir ini namun di hatiku dan tak akan ada yang bisa menghapusnya”.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Andrian kepadaku. “Semoga” gumamku dalam hati.
Jam tangan ku sudah menunjukan pukul 16.00, tak terasa kami habiskan hari ini dengan berenang dan menikmati indahnya pantai ini. Karena kami  merasa sudah lapar akhirnya kami sepakat untuk mencari tempat makan yang selain makanannya enak juga tempatnya nyaman untuk mengobrol.
Setelah berkelililng mencari tempat yang nyaman, kami menemukan sebuah tempat makan lesehan yang berada di pinggir jalan bersebrangan dengan pantai. Kami masuk dan kemudian memesan ikan bakar, cah kangkung beserta lalap dan sambalnya. Begitu indahnya suasana sore ini, rasanya hilanglah penat yang selama ini dirasakan karena kesibukan kuliah yang padat. Yang terasa hanya ketakjuban kepada sang Khalik karena telah menciptakan alam yang begitu indah, rasanya tak ada celah sedikitpun. Sungguh merupakan penciptaan yang begitu sempurna .
* * *
Om pulang....”
Kudengar suara bocah kecil dari dalam rumah. Suara itu semakin jelas terdengar ketika seorang wanita membukakan kami pintu.
“Hallo ade” Ujar Andrian  sambil menggendong anak laki-laki yang berlari menghampirinya. Ternyata anak kecil itu adalah keponakan Andrian. Namanya adalah Ryan Ramadhan, memang namanya sedikit mirip dengan ku yaitu menggunakan nama “Ramadhan dan Ramadhani” pasti karena kami sama-sama lahir ketika orang-orang muslim sedang melaksanakan shaum di bulan Ramadhan.
Aku langsung menyalami perempuan yang sedikit lebih tua dari ku itu seraya memperkenalkan namaku. Ya mungkin inilah Mba Mira yang kemarin ibu ceritakan kepadaku akan datang untuk menemani kami.
“Ayo ade salim sama ateu ( panggilan akrab berasal dari kata tante)” Ujar mba Mira
“Hallo ade, siapa namanya” tanyaku ketika ade kecil itu menyalami ku. Dia menyalamiku tanpa mengatakan apapun mungkin karena dia masih malu dan merasa asing dengan ku.
Aku berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk dan bergegas mandi karena rasanya badan ini lengket akibat air laut tadi.
“Mau mandi Dir” tanya Ian kepada ku.
“Iya nih, badannya pada lengket”
“Ya udah tunggu bentar ya aku masakin dulu air karena disini kan dingin jelas beda dengan di Bogor”
“Gak usah deh kan udah biasa mandi pake air dingin”
“Ini Sukabumi Dira, bukan Bogor. Udah jangan bawel nanti mandinya harus pake air hangat” Ujar Ian kepadaku.
Aku tersenyum melihat perhatiannya kepadaku. Sambil menunggu air panas, aku mencoba mengakrabkan diri dengan ade Ryan. Ku coba mendekatinya dan mengajaknya bermain, lama kelamaan dia pun mulai dekat denganku.
“Ateu,,,ateu... ayo sini kita main ini” panggilnya kepadaku.
Aku langsung menghampirinya dan bermain Game di laptop Ian. Kami pun asyik bermain sampai akhirnya dia tertidur karena merasa lelah bermain dengan ku.
* * *
Ateu,,,ateu,,,” ku dengar suara ade memanggil dan mengetuk pintu kamar.
“Iya sayang sebentar” jawabku dari dalam kamar.
“Ayo ade ajak ateu sarapan sini” ku dengar suara mba Mira menyuruh ade untuk memanggil ku.
“Ateu,, sini” ujar ade seraya menarik lenganku berharap aku mengikutinya. Aku pun mengikuti adik kecil itu tanpa banyak bertanya. Dia menawari ku makanan yang sengaja mba Mira siapkan untuk kami pagi itu. Kami pun asyik mengobrol kesana kemari seraya mengajak ade bermain. Suasana sudah mulai mengasyikan dan tak canggung lagi seperti hari-hari sebelumnya. Aku merasa layaknya berada di rumah sendiri dengan keluarga ku sendiri. Mereka begitu ramah memperlakukanku layaknya bagian keluarga mereka.
“Ateu kuliah dimana, semester berapa sudah lama sama om? Tanya mba Mira kepadaku
“Aku kuliah di salah satu universitas di Bogor mba dan sekarang baru semester VI” jawabku seraya tersenyum. Aku kaget ketika mendengar mba Mira memanggilku dengan panggilan itu. Ya itu menandakan bahwa mereka mengganggapku memang keluarga bukan orang lain yang bertamu.
“Ateu, nanti mba mau pulang duluan ya banyak kerjaan dirumah”
“Oh iya mba aku juga niatnya memang mau pulang siang ini” jawabku
“Ade ayo salim sama ateu nanti kan gak kan ketemu ateu lagi. Ateu kapan-kapan main kesini lagi ya” pinta mba Mira
“Yaaah ade mau pulang sekarang ya, nanti ateu bakal kangen dong sama ade” ujarku dengan ekspresi yang tak rela berpisah dengan keluarga ini.
“Ateu, mba pulang dulu ya, salamin aja sama om Ian” memang kebetulan ian sedang berada di kamar mandi ketika mba Mira berpamitan kepadaku.
“Iya mba, hati-hati di jalan, dadah ade sayang” ujarku seraya mencium pipi ade Ryan.
Ku perhatikan mereka berlalu meninggalkan rumah. Rasanya berat sekali meninggalkan rumah ini, meninggalkan keluarga yang begitu ramah menerima ku. Namun sayang waktu yang tak mengizinkan karena kami harus kembali ke rutinitas kami masing-masing lagi. Aku yang nantinya kembali disibukan dengan rutinitas kuliah dan Ian yang kembali disibukan dunia kerjanya.









Bab Sepuluh
Kudapati sosokmu

Dua hari berlalu selepas kepulangan ku dari Sukabumi dan kembali ke asrama dan aktivitas kuliah ku. Banyak yang berubah sepulang aku dari sana. Aku merasakan kebahagian yang amat membuatku bersemangat. Ya karena setelah beberapa hari di Sukabumi membuat kami berkomitmen untuk menjalin hubungan yang lebih dibanding ikatan sahabat.
Aku sudah merasa nyaman dengannya, karena kami sudah bersahabat dua tahun lebih dan rasanya itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa saling mengenal pribadi masing-masing. Ian begitu dewasa hingga bisa membimbingku karena aku memang tipe anak manja yang selalu ingin diperhatikan oleh orang-orang disekitarku, dan aku dapatkan itu semua di sosok Ian.
Kami selalu menyempatkan waktu meskipun hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi dan juga berbagi pengalaman yang kami alami setiap harinya, sesibuk apapun kami. Itulah yang membuat ku merasa dia begitu dekat dengan ku dan membuat ku percaya kepadanya. Kami berkomitmen untuk saling menjaga perasaan satu sama lain dan juga mencoba saling memberikan kepercayaan sekecil apapun itu.
Beberapa bulan berlalu dan kami tetap seperti itu. Jarak kami memang cukup jauh namun kami tetap merasa dekat karena selalu berbagi informasi apapun itu. Meskipun yang kami bagi bukanlah hal yang begitu penting namun justru hal itu lah yang membuat kami merasa saling peduli.
Tibalah saatnya giliran Ian yang berkunjung ke rumah ku di Bandung. Sama halnya dengan keluarga Ian yang begitu santunnya menerimaku disana, keluargaku pun menerima Ian dengan tangan terbuka. Mereka memberikan kepercayaan kepada Ian agar selalu menjaga ku dan melindungi ku. Dengan kata lain Ian menjadi anggota keluarga ku juga dan begitu pula dengan ku.









Bab Sebelas
Janji mu dan janji kita

kangen sama kamu” ujarku kepada Ian ketika kami sedang asyik mengobrol di telpon.
“Iya, Dir aku juga kangen sama kamu, nanti ya kalau kerjaan aku beres dan gak begitu sibuk nanti aku usahin nemuin kamu ke Bogor”
“Asyiiikkk,,, janji ya”
“Iya aku janji, ekh Dir disini lagi ada ade Ryan nih, kebetulan dia lagi nginep disini”
“Masa sih, aku pengen ngomong dong sama dia kangen juga pengen denger suara dia”
“Hallo ade” ujarku memanggil ade Ryan
“Hallo ateu, apakabar, ateu lagi apa” Ujarnya dengan nada manja layaknya anak bocah seusianya. kudengar suara Ian dibelakang mengajari ade Ryan untuk menanyakan kabar ku.
“Kabar ateu baik sayang, kabar ade gimana, ade udah makan? Tanyaku kepadanya.
Kami pun melepas rasa rindu melalui pesawat telpon. Aku begitu merindukan  keponakan kecilku, rindu dengan kenakalannya dan rindu ketika dia memanggilku ateu.
“Udah ngobrol sama ade Ryannya” ujar Ian menyambung pembicaraanku dengan ade Ryan tadi.
“Wah dia pasti udah makin pinter ya”
“Mmmm makin pinter sih iya, tapi makin bandel juga tuh” Ucap Ian kepadaku.
“Ya pastilah kalau ade bandel, siapa dulu dong omnya” Ujarku meledek Ian.
“Ye, aku kan anak baik ateu” Ujar dia dengan nada manja meniru ade Ryan.
“Iya deh baik,, ateu percaya ko om baik”
“Aku kangen sama kalian, gak sabar rasanya ingin melepas rindu.
“Sabar ya sayang, nanti juga kita pasti ketemu ko. Aku janji” Jawab Ian mencoba mengobati rasa rinduku.
Malam ini kami larut dalam obrolan meski hanya melalui pesawat telpon, namun cukup mengobati rasa rindu kami masing-masing.
“Dir, aku sayang sama kamu, jangan pernah tinggalin aku ya”
“Iya sayang,, aku juga sayang ko sama kamu”
Malam ini pun kami mengikrar janji untuk tetap saling menjaga hati kami, untuk tetap menyayangi dan mencinta.
“Semoga kau menjadi yang terakhir untuku”
“Semoga”
Dia berjanji padaku tak kan pernah membuatku menangis, dan dia berjanji padaku walaupun aku tak kan menjadi miliknya kelak namun dia akan selalu ada untukku. Itulah janji yang terucap dari bibirnya malam ini. Janji yang ku harap bukanlah hanya dibibir saja, semoga janji itu memang benar-benar menjadi nyata bukan hanya menjadi angan-angan semata.
“Ku harap kau selalu mendoakan ku, berdoa agar kelak suatu saat nanti aku lah yang akan menjadi imam dalam setiap shalatmu” Ujarnya kepadaku
Janji yang begitu tulus keluar darinya. Aku pun berharap kelak dia lah yang akan menjadi imam dalam setiap shalatku. Dan seseorang yang akan selalu membimbingku menuju syurga-Nya.











Bab Dua belas
Badai itu datang
Menghapuskan nama yang kau ukir dipasir itu
Juga mencoba menghapus nama yang terukir dihati kita

Benar ini NadiraTerdengar suara perempuan yang tak ku ketahui siapa.
Iya benar, saya Nadira, dengan siapa disana Ujar ku dengan nada ingin tahu.
Saya Andien calon istrinya Andrian, kalau boleh tahu anda siapanya Andrian ya tanya gadis itu dengan nada ketus.
“Calon istri” gumamku dalam hati
“Coba saja tanya Andrian mba, tanya saya siapanya dia” Ujarku dengan nada yang tak mau kalah.
Aku berusaha untuk mencoba tenang, aku pun berusaha untuk berpositif thinking. Aku tak mau terbawa emosi yang nantinya akan membuat masalah menjadi lebih rumit.
“Maaf ya mba, saya mohon sama anda jangan pernah anda ganggu calon suami saya. Dia itu calon suami saya,  jadi jangan kecentilan ya jadi cewe” ujarnya dengan nada yang seolah menantangku
“lho gini ya mba kalau mba ada masalah sama Andrian saya harap mba menyelesaikan langsung dengan orangnya, jangan bawa-bawa saya. Karena saya gak tau apa-apa tentang permasalah mba” Ujarku seraya menahan amarahku.
“Sekarang kamu ngaku aja deh, kamu pacarnya Andrian kan? Udah sekarang gini aja deh, kamu jangan ganggu Andrian lagi”  Ujar gadis itu seraya menutup telponnya.
“Calon istri, ada apa ini sebenarnya? Apakah ini benar? Siapa yang salah?” Pertanyaan itu muncul di benakku. Begitu  tergiang suara gadis itu.”Aku calon istri Andrian”. Benarkah itu? Ya Tuhan apakah ini semua memang benar atau kah ini hanyalah sebuah kesalah pahaman saja. Aku terdiam dengan kebimbangan dan sejuta pertanyaan yang berkeliaran dibenakku.
Ya Tuhan begitu sakit aku rasakan ketika ku harus tau kabar yang begitu menyayat hati. Apakah ini semua benar? Apakah Andrian memang menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa gadis itu hingga dia berani berkata seperti itu. Kenapa dia tahu tentang ku dan tau no handphone ku.
Ku coba menahan tangisku, namun rasanya aku tak sanggup. Aku tak sanggup menerima kenyataan jika nantinya Andrian memang berbohong padaku. Aku tak sanggup membayangkan hal itu nantinya akan menjadi nyata. Aku tak sanggup Tuhan.
“Biarkan aku menjadi imam dalam setiap shalatmu” Tergiang kata-kata yang pernah Ian ucapkan padaku. Kata-kata itu merupakan Ian yang  begitu suci dan sangat berarti bagiku. Apakah itu hanya rayuan gombal Ian untuk memperdayaku.  
* * *
Dir dengerin penjelasan aku, dia bukan siapa-siapa aku. Dia Cuma mantan ku. Orang yang sering aku ceritakan padamu. Aku mohon Dir, percayalah padaku”
“Rasanya aku tak tahu harus mempercayai siapa saat ini Ian. Aku tak tahu apa-apa tentangmu, dan sepertinya aku memang tak tahu siapa kamu”
“Dir, aku mohon percayalah padaku”
“Aku mohon biarkan aku sendiri Ian, tinggalkan aku jika memang aku bukan lah satu-satunya orang yang ada dihatimu. Biarkan aku pergi jika dia masih ada dihatimu.  Biarkan ku jalani hidupku  sendiri. Aku mohon!
Saat ini aku mencoba menenangkan diriku. Aku ingin menguatkan diri, aku bingung siapa yang harus aku percaya saat ini. Aku seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Aku merasa di permainkan dan aku merasa begitu hancur.
Tuhan, apakah ini memang sudah menjadi jalan hidupku. Mengapa semuanya terasa begitu menyakitkan. Mengapa dia harus lukai aku ketika aku berharap lebih padanya. Mengapa harus disaat seperti ini wanita itu hadir diantara aku dan dia.
Aku begitu depresi dengan kejadian ini. Apa harus aku biarkan Ian pergi dari hidupku. Tapi apakah semudah itu ku hapuskan semua tentangnya. Apakah semudah ombak  menghapus nama yang dulu pernah Ian tulis di pasir. Apakah memang semudah itu??
Hatiku bertambah hancur ketika beberapa hari kemudian gadis itu menelponku menggunakan no Ian. Ya itu berarti Ian memang sedang bersama gadis itu. Apa yang ia lakukan disana? Apa yang sedang dia pikirkan tentangku. Apakah dia memikirkan betapa hancurnya aku ketika tiba-tiba gadis itu datangdan menghancurkan semuanya. Menghancurkan kisah cinta ku bahkan menghancurkan semua janji-janji yang pernah terikrar.
Beberapa hari berlalu, namun Ian seolah menghilang ditelan bumi. Tak ada pesan darinya juga tak ada telpon yang selalu dia lakukan ketika aku lupa untuk memberinya kabar. Kemana Ian sekarang? Apakah dia tak merasa bersalah atas kejadian ini. Apa dia tak peduli betapa hancurnya aku dengan kejadian ini. Apakah dia memang sudah kembali menjalani hari-hari bersama gadis itu. Atau mungkin mereka sekarang mencoba membuka lembaran baru dan mengubur semua tentang ku.
Tuhan rasanya tak sanggup kubayangkan hal seprti itu benar-benar terjadi. Rasanya bumi berhenti berputar seketika. Rasanya dunia begitu gelap dan sang surya seolah membenciku dan tak mau menampakan diri.
Hari-hari rasanya begitu enggan ku lalui. Kehidupan seolah terhenti dan aku hanya ingin mengakhiri semua kesakitan ini.





Bab Tiga belas
Layaknya karang, aku pun
Mencoba untuk selalu tegar

Hari-hari ku lalui setelah kejadian itu. Aku mencoba bertahan layaknya karang yang begitu tegar berdiri meskipun ombak berulang kali menghantamnya.
“Dira aku mohon padamu, semuanya hanya permainannya. Dia sengaja menghapus no mu di kontak telpon ku. Aku mohon padamu. Aku benar-benar mencintaimu” itu adalah isi pesan Ian di facebook ku.
Aku kembali menangis ketika aku membaca  pesan itu. Siapa yang harus aku percaya sekarang ya Tuhan.
Aku biarkan pesan itu dan tak memperdulikanya. Hatiku begitu sakit dan rasanya enggan untuk mengulang semuanya. Ian berulang kali mengirimiku pesan, namun tak satupun aku hiraukan. Terlalu sakit untuk memaafkan semuanya, terlebih aku tak tau siapa yang harus aku percaya.
“Dir, plish dengerin penjelasanku”
Karena aku bosan dan tak ingin berlarut dalam ketidak pastian, akhirnya akupun membalas pesan tersebut.
“Biarkan aku jalani hidupku sendiri. Apa belum puas semua air mata ku karena mu? Apa lagi yang kau inginkan dariku? Apa belum cukup semua kesakitanku karena kebohonganmu. Aku mohon akhiri semua ini. Biarkan aku pergi darimu. Biarkan luka ini ku hapus sendiri”
Semua ku katakan dengan berlinang air mata. Begitu beratnya ketika aku harus melepaskan Ian. Begitu sakit ketika aku harus kehilangan sosok Andrian dan membiarkannya memilih wanita lain.
* * *
Hari-hariku berlalu dengan kehampaan namun semuanya harus tetap ku jalani. Ku coba menghapus semua kenangan tentang Ian bukan hanya itu namun menghapus semua janji-janji yang pernah terikrar antara aku dan dia.
Jujur aku tak bisa melupakan semua tentangnya. Begitu sulit bagitu kehilangan sosoknya. Begitu sakitnya ketika aku harus jalani hari-hariku tanpanya.
“Dir, plis angkat telponya” Isi pesan Ian yang terus berusaha menghubungiku namun tak pernah ku balas. Aku tak ingin kembali menagis ketika aku mendengar suaranya karena semua hanya akan semakin membuatku sulit untuk melupakannya.
“Dir, disini ada ade Ryan lho. Tadi dia nanyain kamu. Om kapan ateu kesini lagi? Lucu tau. Mau ngomong sama ade Ryan gak?”
Hatiku begitu berat ketika ku membaca pesan itu. Aku tahu itu hanyalah cara Ian untuk meluluhkanku karena dia tahu aku pasti merindukan ade Ryan. Rasanya aku ingin sekali mendengar suara ade Ryan, namun aku tak ingin nantinya Ian kembali masuk dalam hidupku dan membuatku semakin tak bisa melepaskannya.
Beberapa hari berlalu, aku pun jatuh sakit karena pikiran yang begitu menyiksaku. Aku bertekad agar segera sembuh karena minggu depan akan menjadi hari berharga dalam hidupku. Minggu depan aku akan resmi mendapatkan gelar sarjana. Memang menjadi sebuah dilema untuku, karena wisuda nanti Ian tak ada disampingku. Teringat kenangan ketika Ian berjanji akan mendampingiku ketika saat wisuda nanti, namun semuanya hanyalah menjadi kenangan yang memang harus aku hapuskan.
Ian sudah pergi dari hidupku. Ian bukan milikku lagi dan mungkin dia sudah mendapatkan kebahagian diluar sana dan yang pasti bukan denganku.
“Sayang, ayo diminum obatnya” kudengar suara ibu sembari menyodorkan beberapa obat dokter kepadaku.
Tanpa kata yang terucap dari bibirku, ku ambil obat itu dan segera ku minum.
“Ayo sekarang istirahat dulu ya, biar wisuda nanti kamu sudah kembali fit”
Aku pun hanya melemparkan senyum tanpa berkata apa-apa. Ku lihat punggung ibu semakin menjauh meninggalkan kamar ku. Dan rasanya obat yang ku minum barusan mulai bereaksi. Ku tarik selimutku dan bergegas memejamkan mata.











Bab Empat belas
Hari yang membahagiakan
Dan Bersejarah dalam hidupku

Tak terasa hari yang kunanti pun tiba. Hari ini merupakan hari wisuda ku. Semua begitu sibuk mempersiapkan dan menanti aku akan berada di atas panggung dengan mengenakan baju wisuda dan memegam piagam dengan IPK yang memuaskan.
Aku tak ingin melihat semua orang kecewa. Ku coba hapuskan semua kesedihanku setidaknya untuk saat ini. Ku biarkan senyum itu mengembang dibibirku meski memang semuanya terkesan dipaksakan. Tapi biarkan kesedihan ini hanya aku yang merasakan. Aku tak ingin membagi kesedihanku kepada orang-orang yang aku sayangi.
Prosesi itu pun berjalan dengan lancar dan begitu khidmatnya. Semua orang begitu serius mengikuti acara tersebut sampai selesai. Tibalah sesi dimana semua orang bergembira dan mengabadikannya dengan berphoto bersama keluarga dan orang-orang yang spesial bagi mereka. Berbeda halnya dengan teman-temanku yang datang dengan didampingi oleh pasangan masing-masing, aku hanya ditemani oleh keluargaku.
“Dira,,,” kudengar suara seseorang memanggilku
“Andrian,,,” ujarku dengan ekpresi kaget dan tak percaya
“ko,, kamu ada disini?
“Aku sengaja datang kesini untuk membuktikan bahwa aku memang benar-benar mencintaimu”
“Selamat ya sayang” ujar seorang perempuan yang datang menghampiriku
“Mba Mira, ibu, bapak, kenapa semuanya ada disini” tanya ku kepada mereka. Mereka hanya tersenyum seraya menyalami semua keluargaku dan memberiku selamat.
“Dir, kamu mau kan menikah denganku” ujar Ian seraya mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Aku terdiam sejenak, karena aku tak menyangka Ian akan melakukan hal seperti ini. Ku lihat wajah orang-orang disekelilingku tanda meminta restu kepada mereka.
Merekapun tersenyum dengan mimik kebahagiaan yang tak bisa mereka sembunyikan. Semua kesedihan itu berubah menjadi kebahagian. Aku pun menangis namun bukan karena kesedihanku melainkan sebuah kebahagian yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa ku ungkapkan melalui air mata. Memang terasa begitu indah, karena selain hari ini merupakan hari yang bersejarah dalam hidupku juga menjadi hari yang begitu membahagikan dan tak kan pernah terlupakan.
Ian membuktikan rasa cintanya padaku. Dia juga membuktikan semua janji yang pernah terucap dari bibirnya “dia akan menjadi imam dalam setiap shalat-shalatku” dan tak lama lagi semua janji itu akan menjadi nyata. Ian tak hanya akan menjadi imam dalam shalatku namun akan menjadi iman yang akan menuntun ku ke syurga-Nya.





Bab Lima belas
Bintang itu akhirnya menjadi bintang dalam setiap malam kelamku

Tak kan ku biarkan malam mu gelap, meski bintang enggan tuk menghiasi langit malam ini, namun aku akan mengantikan bintang itu untuk selalu menghiasi malam-malam mu agar malam mu akan selalu menjadi malam yang kau nantikan” Ujar Ian berbisik kepadaku.
“Sekarang aku tak butuh bintang-bintang itu, karena aku tlah memiliki satu bintang yang lebih terang dibanding bintang-bintang yang selalu ku nantikan kehadirannya di setiap malamku” aku membalas berbisik padanya.
Kini Ian sudah menjadi milik ku, dia sudah menjadi imam dalam setiap shalat-shalatku dan menjadi orang yang selalu membimbingku untuk menuju Syurga-Nya. Saat ini aku tak merasa khawatir ombak akan menghapuskan namu kami karena saat ini nama itu telah kami ukir dihati masing-masing. Betapa bahagianya aku saat ini, karena semua janji yang dulu pernah kami ikrarkan kini menjadi sebuah kenyataan.
           

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar