Selasa, 27 November 2012

BATIK DAN MALIOBORO



BATIK DAN MALIOBORO
Ita Mustapa

Jogjakarta, kota budaya yang kerap dijadikan pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu liburan mereka ternyata banyak  menyimpan berjuta sejarah, tradisi juga ciri khas yang sudah melekat ketika kita mendengar kata Jogjakarta. Kota yang selain kental dengan tradisi-tradisi keraton dan selalu dikaitkan dengan Candi-candi yang terdapat disana juga terkenal dengan kota batiknya. Karena Jogjakarta merupakan pengrajin batik yang cukup besar di Indonesia.
Kata Batik seakan tidak dapat dilepaskan dari kota Jogjakarta. Seperti salah satu contoh penjajak batik yaitu yang terletak di jalan Malioboro. Disana berjejer para penjual-penjual batik mulai dari tas, sandal, baju,sampai ke pernak-pernik seperti dompet serta kipas tangan yang kesemuanya bermotif  batik.  Jalan ini selalu ramai dengan hilir mudik para pengunjung  baik itu wisatawan domestik  maupun wisatawan luar  yang menyegajakan diri untuk berlibur di kota Jogjakarta ini. Malioboro merupakan salah satu tempat tujuan yang selalu berada pada list ketika kita berkunjung ke kota Jogjakarta. Selain letaknya mudah dijangkau karena berada di pusat kota juga berdekatan dengan tempat wisata lainnya seperti keraton Jogja, Taman sari, juga Taman Pintar, disana juga terdapat sebuah pasar tradisional yang menyuguhkan  batik-batik yang selain murah namun berkualitas.
Jalan Malioboro selain ramai dengan para penjajak pengrajin batik dan pengunjung yang datang, disana juga dipadati andong-andong serta becak-becak yang sengaja mencari nafkah disana. Karena tak sedikit para wisatawan yang menggunakan jasa tukang andong juga becak sebagai alat transportasi yang mereka gunakan untuk sekedar berkeliling mengitari jalan Malioboro dan menikmati suasana malam yang indah lengkap dengan hiasan lampu-lampu jalan yang semakin mempercantik jalan itu.
Malioboro juga kerap di padati  warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan  yang membuat jalan ini semakin terlihat hidup.
Nama Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga. Konon, jalan ini memang selalu dipenuhi bunga saat perayaan atau upacara tertentu.  Suasana kuno Malioboro masih terasa dengan masih berdirinya gedung-gedung dan bangunan tua peninggalan zaman Belanda
Hiruk pikuk mulai semakin terasa ketika banyak wisatawan yang menghabiskan waktunya untuk berbelanja di penjajak batik serta pernak-pernik yang berada di sekitaran jalan Malioboro. Mereka tak memerlukan tempat yang luas dan mewah, karena hanya dengan trotoar saja mereka bisa menjajakan barang dagangannya. Jalan ini seolah disulap menjadi pasar batik yang mudah dijangkau oleh para wisatawan. Karena di kedua belah ruas sisi jalannya dipenuhi oleh para penjual batik yang sengaja berjualan disana. Dengan jarak yang relatif berdekatan juga lebih memudahkan para pengunjung yang berniat untuk berbelanja  memilih barang apa saja yang ingin mereka beli.
Inilah potret  sebuah tempat yang dinamakan jalan Malioboro yang menjadi urat nadi perekonomian bagi warga sekitar . Tempat ini semakin tak bisa dilepaskan dari kesan  batik dan pernak-pernik serta apapun yang berbau batik. Entah semenjak kapan kesan ini melekat yang pasti disana kita bisa dengan mudah mendapatkan barang-barang yang bermotif batik dan disana pula bisa dikatakan sebagai pusat batik kota Jogjakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar