BATIK DAN MALIOBORO
Ita Mustapa
Jogjakarta, kota budaya yang kerap dijadikan pilihan banyak orang
untuk menghabiskan waktu liburan mereka ternyata banyak menyimpan berjuta sejarah, tradisi juga ciri
khas yang sudah melekat ketika kita mendengar kata Jogjakarta. Kota yang selain
kental dengan tradisi-tradisi keraton dan selalu dikaitkan dengan Candi-candi
yang terdapat disana juga terkenal dengan kota batiknya. Karena Jogjakarta merupakan
pengrajin batik yang cukup besar di Indonesia.
Kata Batik seakan tidak dapat dilepaskan dari kota
Jogjakarta. Seperti salah satu contoh penjajak batik yaitu yang terletak di
jalan Malioboro. Disana berjejer para penjual-penjual batik mulai dari tas,
sandal, baju,sampai ke pernak-pernik seperti dompet serta kipas tangan yang
kesemuanya bermotif batik. Jalan ini selalu ramai dengan hilir mudik
para pengunjung baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan luar yang menyegajakan diri untuk berlibur di kota
Jogjakarta ini. Malioboro merupakan salah satu tempat tujuan yang selalu berada
pada list ketika kita berkunjung ke kota Jogjakarta. Selain letaknya mudah
dijangkau karena berada di pusat kota juga berdekatan dengan tempat wisata
lainnya seperti keraton Jogja, Taman sari, juga Taman Pintar, disana juga
terdapat sebuah pasar tradisional yang menyuguhkan batik-batik yang selain murah namun
berkualitas.
Jalan Malioboro selain ramai dengan para penjajak pengrajin batik
dan pengunjung yang datang, disana juga dipadati andong-andong serta
becak-becak yang sengaja mencari nafkah disana. Karena tak sedikit para
wisatawan yang menggunakan jasa tukang andong juga becak sebagai alat
transportasi yang mereka gunakan untuk sekedar berkeliling mengitari jalan
Malioboro dan menikmati suasana malam yang indah lengkap dengan hiasan
lampu-lampu jalan yang semakin mempercantik jalan itu.
Malioboro juga kerap di padati warung-warung lesehan di malam hari yang
menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya
para Seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti
bermain musik, melukis, hapening
art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan yang membuat jalan ini semakin terlihat
hidup.
Nama Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta
yang berarti karangan bunga. Konon, jalan ini memang selalu dipenuhi bunga saat
perayaan atau upacara tertentu. Suasana
kuno Malioboro masih terasa dengan masih berdirinya gedung-gedung dan bangunan
tua peninggalan zaman Belanda
Hiruk pikuk mulai semakin terasa ketika banyak wisatawan
yang menghabiskan waktunya untuk berbelanja di penjajak batik serta
pernak-pernik yang berada di sekitaran jalan Malioboro. Mereka tak memerlukan
tempat yang luas dan mewah, karena hanya dengan trotoar saja mereka bisa
menjajakan barang dagangannya. Jalan ini seolah disulap menjadi pasar batik
yang mudah dijangkau oleh para wisatawan. Karena di kedua belah ruas sisi
jalannya dipenuhi oleh para penjual batik yang sengaja berjualan disana. Dengan
jarak yang relatif berdekatan juga lebih memudahkan para pengunjung yang
berniat untuk berbelanja memilih barang
apa saja yang ingin mereka beli.
Inilah potret sebuah
tempat yang dinamakan jalan Malioboro yang menjadi urat nadi perekonomian bagi
warga sekitar . Tempat ini semakin tak bisa dilepaskan dari kesan batik dan pernak-pernik serta apapun yang
berbau batik. Entah semenjak kapan kesan ini melekat yang pasti disana kita
bisa dengan mudah mendapatkan barang-barang yang bermotif batik dan disana pula
bisa dikatakan sebagai pusat batik kota Jogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar