Selasa, 27 November 2012
Tak Ingin Sendiri
Andien hanya duduk didekat jendela menatap keluar kamarnya dengan tatapannya yang kosong, hanya itu yang ia lakukan jika malam menjelang. Dia seolah sedang memperhatikan sesuatu yang aneh baginya namun dengan tatapan yang kosong.
Jam dindingnya sudah menunjukan pukul 03.00, namun dia tak menyadari hal itu karena dia hanya merasa asing dengan objek yang ada diluar kamarnya. Waktu memang sudah menjelang pagi, namun begitulah beberapa hari ini dia sulit untuk memejamkan matanya. Dia hanya termenung dan memperhatikan keadaan diluar dari jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka, dan membiarkan angin malam menyapa tubuhnya yang semakin hari semakin tak berisi.
Dia mulai teringat akan kejadian bebarapa tahun silam. Masa-masa yang mungkin sangat ia dambakan, dan sangat mambahahagiakan dalam hidupnya. Hidup ditengah orang-orang yang sangat menyayanginya dan tentunya sangat dia sayangi. Dia teringat akan satu kejadian yang tak mungkin terlupakan dalam hidupnya, kejadian yang membahagiakan serta mengharukan baginya.
***
Saat itu Andien sedang tertidur lelap ketika ia mendengar pintu kamarnya diketuk dengan keras. Dia merasa kaget juga kesal karena saat itu jam bekernya masih menunjukan pukul 00.00, waktu dimana semua orang sedang terlelap dan asyik dengan mimpi mereka masing-masing.
Tok...tok...tok...
“Huh... siapa sih malem-malem gini ganggu orang tidur aja”, gerutu Andien sambil mengucek matanya yang seakan sulit untuk terbuka.
“Iya...siapa?” teriak Andien dari dalam kamarnya.
Tak ada suara yang menjawab pertanyaan Andien tadi. Andien langsung membuka pintu kamarnya yang terkunci dan dia merasa terkejut ketika melihat papah, mamah beserta sahabat-sahabat Andien berada di depan pintu kamarnya, tak terkecuali Rian, pacar Andien.
“Happy birthday sayang...” ucap mamah Andien sambil mencium kedua pipi anak satu-satunya itu. Disusul oleh papah dan sahabat-sahabat Andien yang secara bergantian mengucapkan selamat ulang tahun kepada Andien.
Tibalah giliran Rian—kekasihnya—mengucapkan selamat ulang tahun sambil membawakanya kue tart lengkap dengan lilin yang menyala diatasnya yang menunjukan angka 17.
“Happy birtday honey...” ucap Rian sambil menyodorkan kue tart yang dibawanya.
“Sayang kok kamu ada disini sih, bukannya kamu lagi ada kerjaan di Jakarta? Kamu jahat banget sih sayang...” ucap Andien kesal karena memang Rian sengaja tidak memberitahunya bahwa dia ada di Bandung sejak kemarin.
“Iya maaf sayang, aku kan sengaja ‘ga ngasih tau kamu karena aku mau bikin suprise buat kamu!” jawab Rian kepada Andien.
Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan untuk Andien, selain umurnya yang bertambah, malam itu juga dia mendapat kado special dari orang-orang yang dia sayang. Malam itu pun berakhir dengan sangat membahagiakan untuk Andien.
***
“Pagi sayang...” ucap mamah Andien dari meja makan.
“Pagi pah, mah” jawab Andien dengan wajah yang sumringah.
Tak lama setelah dia menghabiskan sarapannya, terdengar klakson mobil dari depan rumahnya.
“Mah...pah...Andien berangkat sekolah dulu ya, Rian udah jemput tuh” ucap Andien sambil mencium tangan papah mamahnya.
“Kenapa kamu ga suruh Rian sarapan dulu sayang?” ucap mamah Andien.
“Ga usah mah, nanti Andien telat lagi” jawab Andien seraya berlari menuju depan rumahnya.
“Pagi honey...” ucap Rian dari dalam mobilnya.
“Pagi juga honey” jawab Andien sambil membuka pintu depan mobil Rian dan duduk di sebelah Rian.
Mereka pun bergegas menuju salah satu sekolah terfavorit di Bandung yang juga menjadi sekolah mereka.
Setelah sampai di tempat yang dituju mereka pun langsung bergegas menuju kelas yang berada diujung lorong sekolah tersebut.
Seisi sekolah langsung menatap kearah Andien dan Rian, pasangan yang sangat serasi. Siapa yang tidak iri pada Andien, rasanya dia adalah orang yang sangat beruntung di dunia ini. Ia mempunyai keluarga yang bisa dibilang kaya raya dan sangat menyayanginya. Apapun yang Andien mau, orang tuanya selalu memberikannya, selain itu Andien juga memiliki pacar yang tampan yang juga anak dari ketua yayasan sekolah favorite tersebut.
***
Sepulang sekolah, Andien, Rian, serta Kayla dan Sasha sahabat-sahabat Andien, pergi ke sebuah Mall untuk membeli segala keperluan untuk pesta ulang tahun Andien yang akan digelar nanti malam. Mereka membeli pernak-pernik untuk pesta nanti.
Setibanya mereka di rumah Andien, mereka langsung membantu orang tua Andien untuk mempersiapkan acara pesta nanti.
Malam pun tiba, dan pesta pun digelar dengan meriahnya. Selain dihadiri teman-teman sekolah Andien, juga dihadiri oleh rekan kerja Papah Mamah Andien. Pesta pun berlangsung dengan meriah dan Andien yang pada malam itu dibalut dengan gaun merah muda pun tak luput menjadi pusat perhatian tamu-tamu yang datang.
Suasana malam itu sangat membahagiakan dalam hidup Andien, dan bukan hanya Andien saja yang merasakan kebahagian itu, tapi orangtua, sahabat serta Rian pacarnya pun merasakan hal yang sama.
Pesta berakhir dengan kejutan-kejutan yang sengaja disiapkan Rian untuk Andien dan yang tentu saja Andien tidak tahu kalau Rian yang sengaja mempersiapkan segalanya.
***
Beberapa hari kemudian Papah dan Mamah Andien ditugaskan untuk pergi keluar kota dari kantor mereka.
“Sayang... besok Mamah dan Papah ditugasin untuk pergi ke Medan. Kamu ga apa-apa kan ditinggal sama mbo’ Nah?” tanya mamah kepadaku.
Mbo‘ Nah adalah pembantu kami yang selalu setia bekerja pada keluargaku.
“Emang berapa lama perginya?” tanya Andien.
“Ga lama ko sayang, paling Cuma 2 hari” jawab Papah padanya.
“ Oh...yaudah ga apa-apa kok, kan ada Mbo’ Nah yang nemenin Andien” Jawab Andien.
“Bener nih ga’ apa-apa?” tanya Mamah meragukan.
“Beneran Mah, Andien ga’ apa-apa kok” jawab Andien menyakinkan mereka.
***
Esok pun tiba, Andien sengaja bangun lebih pagi karena ingin memabantu Papah Mamahya menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk 2 hari ini. Entah kenapa perasaan Andien saat itu berat sekali untuk membiarkan orangtuanya pergi. Rasanya Andien masih ingin berlama-lama dengan mereka dan tak ingin mereka pergi. Perasan itu terasa berbeda dengan hari sebelumnya ketika orangtua Andien berpamitan kepadanya.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Papah Andien kepadanya.
“Kamu sakit?”
“Nggak kok Pah, Andien baik-baik aja” jawab Andien.
“Kamu kelihatan pucat sekali sayang, kalau kamu sakit biar Papah dan Mamah menunda keberangkatan ke Medan aja ya”
Andien ingin sekali orangtuanya tidak pergi, namun Andien merasa tidak tega jika harus membiarkan orangtuanya menelantarkan pekerjaanya hanya demi Andien.
“Andien ga apa-apa Pah” jawabnya lagi.
“Ya sudah, yakin kamu ga apa-apa sayang?” tanya Mamah.
“Iya beneran, udah kalian pergi aja, nanti ketinggalan pesawat lagi” jawab Andien meyakinkan mereka.
Dengan berat hati Andien pun membiarkan orangtuanya pergi. Begitu pula dengan Papah Mamah Andien yang tidak tega meninggalkan Andien dengan pembantu dan supir pribadi keluarga mereka.
***
Setelah kepergian Papah Mamahnya, Andien pun bergegas mandi dan menyantap sarapannya. Setelah itu ia mengambil remote tv yang ada di ruang tengah dan menonton film-film cartoon favoritnya. Hari itu memang hari libur, dan Andien memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana karena dia merasa sangat malas untuk beraktivitas diluar, sekalipun itu dengan sahabat dan pacarnya Rian.
Sambil ditemani makanan ringan kesukaannya, Andien pun asyik menonton acara kesukaannya itu. Tak terasa waktupun semakin cepat berlalu dan kini waktu sudah menunjukan pukul 17.00. Dia pun mematikan tv dan bergegas masuk kamar untuk mandi. Belum sampai dikamar tiba-tiba telpon rumahnya berdering dengan kerasnya. Andien pun lagsung bergesas menyabar telpon rumah yang tidak jauh dari kamarnya tersebut.
“Hallo...dengan siapa disana?” tanya Andien membuka pembicaraan.
“Apa benar ini rumah Pak Anto Setiawan, bisa saya bicara dengan Andien Anggita Setiawan?” tanya seseorang disebrang telpon.
“Iya betul, ini dengan siapa, dengan saya sendiri” ucap Andien.
“Begini mba Andien kami dari pihak Rumah sakit, tadi siang ayah serta ibu mba masuk rumah sakit, dan sekarang sedang ditangani dokter dari rumah sakit kami”
“Apa....rumah sakit?!” tanya Andien tak percaya.
Seseorang itu memberitahukan Andien alamat rumah sakit tempat papah mamahnya dirawat, Andien pun langsung menelpon Rian dan bergegas menuju rumah sakit tersebut.
***
Di sepanjang perjalanan, Andien sangat gelisah ingin segera bertemu dengan kedua orangtuanya. Dia tidak banyak bicara dan hanya menangis saja selama diperjalanan.
Setibanya di rumah sakit yang dituju, Andien langsung bergegas mencari kamar dimana orang tuanya dirawat. Namun betapa terkejutnya Andien ketika mendengar berita dari dokter yang merawat papah mamah Andien kalau orangtuanya sudah mennggal dan tidak bisa diselamatkan karena kecelakaan pesawat yang sangat parah. Andien hanya bisa terdiam dan menangis sejadi-jadinya mendengar berita itu.
Andien langsung masuk dan melihat jasad papah dan mamahnya untuk yang terakhir kalinya. Betapa sakit hati Andien melihat itu semua, Andien masih tidak bisa mempercayai bahwa mereka sudah meninggal. Andien histeris ketika melihat orangtuanya hanya terbujur kaku. Dia menangis sekeras-kerasnya karena tidak bisa menerima kenyataan. Andien memeluk jasad mamahnya seolah tidak rela untuk membiarkannya pergi meninggalkannya.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu Andien mulai menutup diri. Dia berubah tidak seperti Andien yang dulu, Andien yang periang, manja, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan yang memang sulit dia terima. Dia merasa Tuhan sangat tidak adil padanya karena telah mengambil kedua orangtuanya untuk selama-lamanya. Dia merasa dunia begitu kejam padanya karena membiarkannya sendiri di dunia ini. Hari-hari pun berlalu, namun kejadian itu masih teap tersimpan dibenaknya. Rasanya sulit untuknya melupakan dan menerima kenyataan kalau semuanya telah pergi meninggalkannya.
Setiap hari Andien kerap bertingkah aneh seolah dia masih bersama dengan orangtuanya. Dia kerap terlihat berbicara sendiri, tertawa bahkan layaknya seperti sedang mengobrol asyik. Dia selalu menggagap bahwa orangtuanya selalu menemaninya disaat dia sendiri.
Tenyata kesedihan Andien belum cukup sampai disana. Setelah kepergian orangtuanya, Rian kekasihnya pun malah menyakitinya. Rian pergi meninggalkan Andien dengan perempuan lain. Betapa sakit hati Andien ketika dia tahu bahwa Rian telah meninggalkanya. Lengkap sudah penderitaan Andien sekarang, semua orang yang dia sayangi ternyata malah pergi meninggalkannya. Sekarang Andien hanya ditemani oleh Mbo’ Nah pembantunya, karena dia tidak punya sanak saudara disana.
Setelah Rian meninggalkannya, Andien merasa sangat terpukul dan shock. Dia sering uring-uringan dan kerap mengamuk jika ada yang menemuinya termasuk sahabatnya sekalipun. Oleh karena itu dia melakukan perawatan oleh psikiater yang rutin datang berkunjung kerumahnya.
****
Tok...tok...tok....
Suara pintu kamar Andien di ketuk dan terdengar suara orang membuka pintu kamarnya dan masuk. Ternyata itu adalah pembantu Andien yang mengingatkan Andien untuk segera tidur.
“Non kenapa belum tidur? Ini sudah hampir pagi lho” ujar mbo’ Nah merasa khawatir.
Namun Andien hanya terdiam tidak mengubris ucapan ibu separu baya itu yang selalu setia menemaninya.
“Ya sudah toh kalau Non memang belum ngantuk, tapi jangan lupa tidur ya Non” ujar mbo’ Nah sambil mengusap kepala gadis itu.
Mbo’ Nah pun bergegas meninggalkan majikan kesayangannya itu dan kembali menuju kamarnya.
Namun Andien tidak bergeming sedikitpun. Dia hanya terdiam menatap langit, dan tiba-tiba dia melihat ada sebuah bayangan diluar sana yang memaksanya untuk menghampirinya. Andien pun berdiri dan berjalan menuju bayangan itu. Bayangan itu semakin jelas dalam pandangannya, melambaikan tangan dan memanggil-manggil namanya. Dia pun berjalan menghampirinya tanpa sadar dia sudah berada diluar kamarnya dan akhirnya dia terjatuh dari kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Dia merasakan tubuhnya melayang dan merasakan kedamaian saat dia menutup matanya.
THE END
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar